Mengenal Hadi Susilo, Atlet Difabel Sempat Frustasi Ingin Bunuh Diri
Merdeka.com - Menjadi seorang atlet kenamaan dengan segudang prestasi merupakan impian bagi sebagian orang. Perjuangan harus lebih keras, terutama bagi para penyandang difabel.
Hal ini telah dilakoni Hadi Susilo, yang kini telah berhasil menjadi seorang atlet difabel dan mengikuti berbagai pertandingan. Bukan hal mudah merasa berbeda, hingga dia sempat depresi dan ingin bunuh diri. Simak kisah perjuangan Hadi berikut ini.
Alami Kecelakaan Motor
Hadi Susilo pernah mengalami kecelakaan motor tunggal pada tahun 2011. Tidak mudah bagi Hadi untuk menerima keadaan baru. Hadi mengakumengalami kelumpuhan total.
Kini pria tamatan SMA ini harus selalu bertumpu pada kursi roda yang setia menemani setiap perjalanannya. Kaki Hadi sudah tak mampu lagi digerakkan seperti sebelumnya.
Depresi Ingin Bunuh Diri
Pria yang kini tergabung dalam cabang olahraga (Cabor) Panahan Kalimantan Tengah itu ternyata pernah mengalami tekanan. Perasaan membelenggu dan pesimis timbul melihat fisiknya yang tak lagi normal.
Hadi yang depresi beberapa kali mengaku ingin mengakhiri hidup saja, sebagai jalan keluar terbaik.
"Awalnya sempat frustasi dan ingin bunuh diri," ujar Hadi dilansir dari tniad.mil.id.

tniad.mil.id ©2020 Merdeka.com
Bangkit dengan Semangat Baru
Beruntunglah dokter yang merawat Hadi memiliki kawan seorang pelatih panahan. Dia tengah mencari atlet difabel dari Kabupaten Lamandau.
Inilah awal kebangkitan dan semangat baru Hadi muncul. Dia mencoba belajar menjadi seorang pemanah bersama para penyandang difabel lain. Rasa syukurnya lebih muncul setiap melihat keadaan rekannya yang terhitung lebih parah dari pada dirinya.
"Akhirnya dengan berjalannya waktu, dan dengan mengikuti latihan panahan gairah hidup saya tumbuh lagi," papar Hadi.
"Ternyata masih banyak yang kondisinya jauh di bawah saya, tapi mereka tetap bersemangat," tambahnya.
Mengikuti Berbagai Pertandingan
Hadi yang terus belajar telah mampu mewakili Kalimantan Tengah di beberapa pertandingan. Keikutsertaannya bukan sekedar berpartisipasi, tapi juga berprestasi.
Hingga Hadi memperoleh tugas mewakili Kalimantan di berbagai kota besar, bersaing dengan para atlet difabel lain.
"Hingga saat ini, saya sudah mengikuti berbagai pertandingan, yaitu di Bandung, Pakualam Cup di Yogyakarta, Mangukura Open di Bali," ucapnya.
Tanding dengan Atlet Normal
Melalui Kuad Archery Open Championship 2019, yang digelar di Lapangan Gatot Subroto Makopassus, Cijantung, Jakarta Timur, Kamis (12/12/2019). Menjadi salah satu momen besar bagi Hadi.
Dia berkesempatan bertanding bersama para atlet normal dari berbagai kota besar. Bersama dengan Lia, rekan dari Kalimantan Tengah, keduanya berusaha jadi juara. Ini merupakan event pertama bagi Mahda Aulia, gadis difabel sejak lahir yang kini masih duduk di bangku SMP itu.
"Bersama Lia juga (atlet difabel), kami tidak hanya sekadar partisipasi, namun juga berkompetisi dan berprestasi bersama dengan atlet lainnya yang normal," tutup Hadi.
(mdk/kur)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya