Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Kisah Lucu saat Pertempuran 10 November, Mendadak jadi Kapten Temui Tentara Inggris

Kisah Lucu saat Pertempuran 10 November, Mendadak jadi Kapten Temui Tentara Inggris 10 November. ©Istimewa

Merdeka.com - Selama ini kita mengenal 10 November 1945 sebagai puncak 'Pertempuran Surabaya'. Momen perang pertama Indonesia melawan pasukan asing, setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Selain itu, 10 November 1945 sebagai pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia, melawan kolonialisme.

Ternyata di balik kisah getirnya para pahlawan kala itu, terselip peristiwa kocak demi menghadapi perundingan dengan tentara Inggris. Momen yang bikin tersenyum itu, tertuang dalam buku "10 November '45, Mengapa Inggris Membom Surabaya?".

Kejadian tak terduga, mendadak jadi kapten. Ingin tahu kisah lengkap dan siapa tokoh yang dimaksud? Simak informasinya berikut ini.

Gencatan Senjata

003 debby restu utomo

©2018 Merdeka.com

Rangkaian pertempuran 10 November 1945 tak hanya meninggalkan kisah heroik semata. Terselip juga beberapa peristiwa lucu.

Termasuk sikap polosnya para pejuang Republik Indonesia, ketika hendak menghadapi perundingan dengan tentara Inggris.

Sekitar tanggal 30 Oktober 1945, diadakan gencatan senjata antara pasukan Tanah Air dan tentara Inggris. Salah satu kesepakatan yang diperoleh adalah membentuk joint comittee, yang akan sama-sama mengawasi gencatan senjata.

Berunding dengan Inggris

Kedua belah pihak setuju untuk membuat perundingan bersama. Pihak Inggris diwakilkan oleh Brigjen Mallaby, Kolonel Pugh, Mayor Hudson, Kapten Shaw, dan Wing Commander Groom.

Sementara dari Indonesia ada Residen Sudirman, Dul Arnowo, Atmaji, Sungkono, Kusnandar, Ruslan Abdulgani dan lain-lain.

Di komite bersama itu, Kapten Shaw menjabat sebagai sekretaris. Dari pihak Republik, Ruslan Abdulgani yang ditugaskan menjadi sekretaris.

Kisah Lucu Ruslan

 

001 debby restu utomo

©2014 Merdeka.com

Ruslan bercerita mengenai momen kocak tak terduga ini dalam buku "10 November '45, Mengapa Inggris Membom Surabaya?".

Buku tersebut ditulis oleh Sejarawan Batara R Hutagalung dan diterbitkan Yayasan Persahabatan Surabaya '45, tahun 2001.

Ruslan ingat tiba-tiba Des Alwi masuk ruangan dan menanyainya dalam logat Suroboyoan. Des Alwi merupakan anak angkat dari Mohammad Hatta, Wakil Presiden Indonesia kala itu.

"Eh Cak, kamu berunding dengan siapa?," tanya Des Alwi.

"Itu, Kapten Shaw," jawab Ruslan.

"Lha, pangkatmu opo?," tanya Des Alwi lagi.

"Ndak duwe opo-opo (nggak punya apa-apa)," kata Ruslan polos.

 

Mendadak Disuruh Jadi Kapten

Des Alwi yang tak mau Indonesia dianggap remeh oleh tentara Inggris, sontak terlintas ide meminta Ruslan diangkat juga sebagai 'Kapten'. Sebagai sesama sekretaris di Komite, sebaiknya sepadan dengan jabatan dari lawan.

"Ayo jadi kapten. Karena Shaw itu kapten, harus jadi kapten juga. Habis ini terus lapor ke tempat Moestopo," jelas Des Alwi.

Ruslan dan Des Alwi segera menemui dokter Moestopo, salah satu komandan pasukan di Surabaya.

"Mus, Ruslan dadekno kapten! (Mus, jadikan Ruslan kapten!)," kata Des Alwi.

"Kenopo?," tanya Moestopo.

"Ngadepi kapten!," balas Des Alwi. Maksudnya nanti Ruslan harus menghadapi kapten Inggris saat perundingan.

Maka begitu mudah saja, Moestopo menyetujui kenaikan pangkat luar biasa itu.

"Dadekno, kono! (jadikan, sana)," ucap Moestopo.

Begitu Polos Baru Paham Kapten itu Bintang Tiga

Maka setelah Ruslan Abdul Gani resmi jadi kapten Tentara Keamanan Rakyat (TKR), ia menghadap Kolonel Sungkono. Saat itu ia menerima tanda pangkat kapten berupa tiga buah bintang kecil.

"Baru saya ngerti, kalau kapten itu bintang tiga," gumam Ruslan.

Diajari Cara Hormat

Kelucuan Ruslan tak berhenti sampai di situ. Kolonel Sungkono pun membriefing Ruslan soal tata cara hormat militer sebelum hari berunding tiba.

"Cak, engko nek ono letnan, kon ojo ngene (cak, nanti kalau ada letnan Inggris kamu jangan memberi hormat)," ujar Sungkono sambil memperagakan bentuk hormat.

"Oh ya," jawab Ruslan.

"Itu nek ono kolonel, kon sing ngene! (kalau sama kolonel kamu harus gini-hormat!)," jelas Sungkono lagi.

"Nek podo (sama-sama kapten)?," tanya Ruslan.

"Menengo wae! (ya diam saja)," tukas Sungkono.

Begitulah, kisah Ruslan Abdul Gani. Menerima kenaikan jabatan, lahir hari itu 'Kapten Ruslan'.

(mdk/kur)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP