Dulu Tinggal di Gorong-gorong, Kini Leo Berhasil Lulus S3 & Jadi Konsultan Freeport
Merdeka.com - Nasib seseorang memang sudah ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Manusia hanya perlu berusaha dan berdoa agar mendapat nasib yang baik.
Usaha keras selalu akan membuahkan hasil yang maksimal. Hal ini telah dibuktikan oleh Leonardus Tumuka. Pria yang akrab disapa Leo ini merupakan konsultan di PT Freeport Indonesia.
Meski kini telah sukses, siapa sangka Leo dulu pernah tinggal di gorong-gorong. Bahkan, di usia 7-8 tahun, ia sempat bekerja untuk menghidupi keluarganya.
Berikut ulasan lengkapnya.
Pernah Tinggal di Gorong-gorong

Liputan6.com/Arya Manggala
Dilansir dari Liputan6.com, terdapat kisah inspiratif dari seorang pemuda Suku Kamoro bernama Leonardus Tumuka. Pria yang akrab disapa Leo ini lahir di Kampung Koperapoka, Mimika, Papua, 20 Juli 1984.
Sebelum sukses seperti sekarang, Leo dan keluarga ternyata sempat tinggal di gorong-gorong.
"Saat usia saya sekitar 7-8 tahun, kedua orang tua saya sakit-sakitan. Keluarga kami tidak terpandang (bahkan Leo bersama saudara-saudaranya seolah-olah dianggap tidak memiliki keluarga) sehingga kami memilih pindah tinggal di Gorong-gorong," ungkapnya.
Menghidupi Orang Tua dan 9 Saudaranya
Kala itu, Leo juga harus bekerja lantaran ayah dan ibunya sakit. Ia bekerja untuk menghidupi orang tua dan sembilan saudaranya."Setiap hari saya harus banting tulang pergi pasang jaring dan mencari ikan di kali (sungai). Waktu itu belum ada bendungan di gorong-gorong. Berulang kali kaki saya terkena pecahan beling (kaca) karena tidak pernah memakai sandal, apalagi sepatu," kata Leo dikutip dari Liputan6.com.
Tulus Menjadi Tulang Punggung Keluarga

©Liputan6.com/Arya Manggala
Leo menjalani pekerjaan tersebut saat dirinya berusia 7-8 tahun. Tentu saja kondisi tersebut sangat berat untuk anak seusianya. Meski demikian, ia ikhlas dalam melakukan pekerjaannya."Kalau saya tidak pergi mencari ikan untuk dijual, kami sekeluarga mau makan apa? Ya, itulah risiko saya sebagai anak tertua dalam keluarga," terangnya.
Sempat Bingung saat Mata Pencaharian Hilang
Untuk dapat seperti sekarang, bukan lah hal yang mudah bagi Leo. Hingga dirinya berusia 8 tahun, Leo belum juga bersekolah. Padahal teman-teman sebayanya sudah bersekolah di SD Inpres Koperapoka.Saat itu pula, PT Freeport mengerahkan alat berat untuk menggali lokasi yang akan dijadikan bendungan di sekitar gorong-gorong sampai samping Bandara Mozes Kilangin Timika.Akibatnya, sungai yang biasa digunakan Leo untuk mencari ikan seketika lenyap. Kondisi tersebut membuat Leo benar-benar bingung."Rumah kami persis di samping bendungan itu. Saya kemudian berfikir keras, dimana lagi tempat kami mencari nafkah. Saya berdoa, meminta Tuhan membukakan saya jalan," kata Leo.
Perjalanan Pendidikan Leo

©patrickrhone.com
Saat itu pula, guru SD Inpres Koperapoka memanggil Leo dan mengharuskannya untuk bersekolah."Sekitar tahun 1992, saya dipanggil guru ke sekolah dan sejak itu saya membulatkan tekad untuk sekolah," ungkapnya.Setelah menyelesaikan pendidikan di SD Inpres Koperapoka pada tahun 1999, Leo kemudian melanjutkan sekolah ke SMP YPPK Santo Bernadus Timika hingga lulus tahun 2002.Kemudian di tahun 2002, Leo dan 72 anak Papua lainnya mendapat bantuan beasiswa dari Direktorat Pendidikan Menengah Umum Kemendikbud untuk melanjutkan pendidikan SMA di Pulau Jawa. Leo dan empat putra putri Papua ditempatkan di SMA Negeri 2 Madiun, Jawa Timur."Saat bersekolah di SMA Negeri 2 Madiun, saya dan teman-teman Papua benar-benar digembleng. Di situlah kami merasakan bedanya pendidikan di Papua dan luar Papua, terutama di Jawa," jelasnya.Setelah menyelesaikan pendidikan di SMA Negeri Madiun pada 2005, Leo melanjutkan pendidikan ke Universitas Pasundan Bandung. Ia mampu menyelesaikan pendidikannya di jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik pada tahun 2009.Berkat mendapat bantuan dari Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK), Leo dapat melanjutkan pendidikannya ke jenjang strata dua (S2) di Universitas Katolik Soegiyapranoto Semarang dan selesai pada tahun 2011."Pendidikan strata dua hingga strata tiga saya sepenuhnya dibantu oleh LPMAK. Terima kasih sudah memperhatikan pendidikan anak-anak Suku Kamoro, Amungme dan lima suku kekerabatan di Mimika," terangnya.
Lulus S3 di Filipina
Leonardus Tumuka menyelesaikan pendidikan doktoral di University of the Philipines Los Banos, Filipina, tahun 2015. Ia mengambil bidang Community Development."Disertasi saya mengangkat soal faktor-faktor yang menghambat Suku Kamoro terutama dari sisi pemberdayaan ekonomi, pendidikan dan kesehatan," ujar Leo.
Menjadi Konsultan di PT Freeport Indonesia
Saat ini, Leo merupakan konsultan pada Departemen Community Affairs PT Freeport Indonesia di Kuala Kencana, Timika. Selain itu, Leo juga menjadi staf pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Jambatan Bulan Timika. Tak hanya itu, Leo juga dipercaya menjadi Kepala Bidang Sumber Daya Manusia (SDM) di Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) Timika.
(mdk/add)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya