Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Pocong Cepek, 'Hantu' Andalan di Persimpangan Jalan Surabaya

Pocong Cepek, 'Hantu' Andalan di Persimpangan Jalan Surabaya Pocong Cepek Jalanan. ©2021 Merdeka.com/Ivu Fajar

Merdeka.com - Tak melompat-melompat atau hanya diam di tempat, pocong yang satu ini sibuk mondar-mandir di pertigaan jalan sudut Kota Pahlawan. Hantu yang satu ini tak membuat warga Surabaya menjadi kalang kabut ketakutan justru terbantu dengan kehadiran sang pocong ini.

Pocong cepek, begitulah warga Surabaya memanggilnya. Kain berwarna putih membungkus tubuhnya, di bagian atas diikat sebuah tali. Wajahnya berlumuran cat berwarna putih. Lingkaran hitam besar terlukis di kelopak matanya. Totalitas, penampilan pria lanjut usia ini bak pocong sungguhan.

Dengan gaya yang nyentrik, Pocong Cepek mengatur lalu lintas di persimpangan jalan Kota Surabaya. Menjadi andalan sekaligus penghibur para pengguna yang melintas.

pocong cepek jalanan©2021 Merdeka.com/Ivu Fajar

Dari kejauhan bendera berwarna merah tinggi terlihat berkibar. Tongkat yang tinggi dengan bendera yang terikat menjadi penanda keberadaan sang pocong cepek jalanan. Sang pocong cepek, sosoknya 'menghantui' gentayangan di persimpangan Jalan Kutisari, Surabaya.

Sesekali suara lantangnya terdengar di antara deru jalanan. Tangannya sibuk beraksi dengan bendera merah itu. Dengan modal nekat, teriakan dan komando tangannya, pengendara lalu lintas mengikuti aba-aba dari 'hantu' jalanan ini.

pocong cepek jalanan©2021 Merdeka.com/Ivu Fajar

Sutrisno, sang pocong cepek jalanan ini telah melakoni profesi ini hampir separuh hidupnya. Selama 23 tahun sejak 1998, Ia setia berdiri di persimpangan jalan raya itu. Menghalau panas terik matahari, berlindung di balik kostum nyentriknya.

Lintasan yang ramai dengan kendaraan yang tak pernah berhenti menjadi tumpuan hidupnya. Bergantung pada belas kasihan pengendara yang lewat. Dari uang receh yang kadang sampai di tangan atau dipungut dari aspal. Penghasilan yang dikumpulkan pun tak menentu tiap harinya. Rezekinya tergantung besar kecilnya recehan yang diberikan pengendara mobil.

pocong cepek jalanan©2021 Merdeka.com/Ivu Fajar

Menjadi polisi cepek bukan pekerjaan gampang. Bukan pula pekerjaan yang ia idam-idamkan. Namun, Ia tetap memberikan yang terbaik yang ia bisa. Dengan ide kreatifnya, Sutrisno tampil beda dengan polisi cepek lain.

Tak seperti polisi cepek dengan baju ala kadarnya. Pria yang akrab disapa Tris ini merangkai sendiri kostum andalannya. Selain pocong, beberapa kostum pun ia pernah pakai. Dari baju adat, tentara, tokoh-tokoh pahlawan dan baju-baju unik lainnya. Namun kostum yang melekat pada Sutrisno ialah pocong.

pocong cepek jalanan©2021 Merdeka.com/Ivu Fajar

Sebelum menjadi polisi cepek, pria asal Banyuwangi ini sudah menjajal profesi lain. Dari kuli bangunan sampai tukang becak. Menjadi polisi cepek berawal tatkala ia membantu padatnya lalu lintas di persimpangan jalan.

Selama menjadi polisi cepek, asam manis jalan pun sudah ia lewati. Semangat dan kerja kerasnya seolah tak pernah pudar. Demi membantu warga Surabaya dari padatnya lalu lintas, sekaligus menghibur hati pengendara. (mdk/Tys)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP