Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Gua Kali Luweng, Mata Air Andalan Saat Kekeringan Melanda Pacitan

Gua Kali Luweng, Mata Air Andalan Saat Kekeringan Melanda Pacitan Gua Kali Luweng Pacitan©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo

Merdeka.com - Sisi Barat Pacitan memang istimewa. Kondisi geografisnya terdiri dari bebatuan karst. Bebatuan berongga ini akan dengan cepat menyerap air permukaan ketika hujan. Namun karst identik dengan keberadaan gua yang mudah ditemui. Saking banyaknya gua di Pacitan, kota ini dijuluki sebagai Kota 1001 Gua. Selain punya keindahan, gua di pacitan sebagian besar juga memberikan manfaat bagi warga sekitar.

Salah satunya di Desa Klepu, Donorojo, Pacitan, Jawa Timur ini. Saat paceklik tiba mereka begitu kesulitan mengakses air bersih. Kemarau berkepanjangan bahkan menghambat pasokan PDAM ke desa mereka. Masyarakat setempat menamainya Gua Kali Luweng. Mata air di Gua Kali Luweng bahkan tak pernah habis. Gua ini jadi andalan warga dalam bertahan di tengah krisis air bersih.

Gua Kali Luweng bak oase di dataran kering kerontang. Sumber airnya tidak pernah habis. Namun butuh perjuangan untuk mengakses ketersediaan air bersih di Gua Kali Luweng.

005 ibrahim hasan

Gua Kali Luweng Pacitan©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo

Di dalam gua yang lebarnya tak lebih dari 5 meter ini, para ibu rumah tangga beraktivitas. Ada dua sisi di dalam gua dengan mata air berbeda. Lubang mata air pertama dikhususkan untuk keperluan air minum. Berbagai ukuran jerigen berbaris antri untuk di isi. Menyuplai konsumsi air minum di rumah warga.

Mengambil airnya bahkan harus menceburkan diri ke dalam lubang kecil. Lubang berukuran 50 cm ini menjadi andalan mencukupi air minum. Airnya sangat jernih, bahkan warga percaya mata air Gua Kali Luweng dapat diminum langsung tanpa harus dimasak.

Lain halnya lubang kedua, warga memanfaatkannya untuk mencuci baju. Detergen, ember, baju cucian mereka bersihkan di dalam Gua Kali Luweng. Bahkan tak jarang gua ini dipakai untuk mandi.

005 ibrahim hasan

Gua Kali Luweng Pacitan©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo

Berada di dalam gua dengan kesegaran mata air alami. Terhalang tingginya dinding dan mulut gua. Suasana di dalam Gua Kali Luweng terasa sejuk dan lembab. Dulunya gua ini hanya sebuah lubang dengan bebatuan karts. Oleh warga dibangun dengan meratakan lantai gua hingga membersihkan dari bebatuan kecil.

Dibuat tangga dari cor untuk memudahkan akes keluar-masuk gua. Namun harus hati-hati untuk menuruninya. Tangga beton ini lebarnya tak lebih dari 30 cm. Dengan satu pegangan kecil di sisi kanan Butuh keseimbangan ekstra untuk meniti tangga.

005 ibrahim hasan

Gua Kali Luweng Pacitan©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo

Penuh resiko, lubang Goa Kali Luweng memiliki kedalaman 6 meter dari permukaan tanah. Suhu lembab menjadikan tangga licin, sebagian ditumbuhi lumut. Salah langkah dan hilang keseimbangan bisa saja berakibat fatal. Kemiringan tangga ini bahkan lebih dari 45 derajat. Mendekati tegak lurus mengikuti topografi goa yang berbentuk vertikal.

Setidaknya ada 27 anak tangga yang harus dilalui secara perlahan. Saat menaiki tangga, para Ibu Rumah Tangga ini berpegangan pada tangan kanan. Sedangkan tangan kiri menenteng ember, cucian, hingga jerigen yang beratnya mencapai 25 kilogram.

005 ibrahim hasan

Gua Kali Luweng Pacitan©2021 Merdeka.com/Yoyok Sunaryo

Selama puluhan tahun warga memanfaatkan Gua Kali Luweng untuk bertahan di tengah kekeringan. Bahkan jauh sebelum akses PDAM masuk ke desa, mereka terbiasa masuk ke dalam gua demi mendapatkan air bersih. Akses dari Desa Klepu lumayan jauh, butuh waktu tempuh 1 kilometer perjalanan dengan jalur bebatuan dan perbukitan.

Saat kemarau berkepanjangan, wilayah karst Pacitan seperti Kecamatan Donorojo, Punung, dan Pringkuku sering mengalami krisis air. Dengan memanfaatkan gua pada bebatuan karst ini warga dapat memenuhi kebutuhan air mereka. (mdk/Ibr)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP