Tak hanya taruh barang di online, tapi juga tahu strategi
Merdeka.com - Dalam peneltian yang dilakukan PwC tahun 2017, menyebutkan bahwa masih banyak tantangan yang harus dihadapi perusahaan retail untuk masuk ke industri online. Tantangannya itu di antaranya kesulitan saat beralih sistem dan kekurangan tenaga ahli.
Namun di antara keduanya, yang paling sulit adalah saat beralih sistem yang memiliki prosentase sebesar 20 persen dibandingkan kekurangan tenaga ahli 10 persen. Maka dari itu, CEO aCommerce, Hadi Kuncoro mengatakan, industri konvensional harus mengetahui bagaimana cara yang tepat untuk masuk ke digital.
"Kuncinya retailer harus mengetahui bagaimana mengintegrasikan multichannel yang tepat, baik secara online maupun offline," terang dia saat acara diskusi e-commerce oleh Indonesia di Jakarta, Rabu (12/4).
Lisa Widodo, Head of Operations and Product Management Blibli.com juga senada dengan pendapat Hadi. Katanya, dibutuhkan hubungan yang sinergi antara brand dengan perusahaan e-commerce.
"Jadi, bukan sekadar jualan di online, tapi harus juga memperhatikan aspek yang lengkap, seperti akses yang mudah dijangkau serta keunikan yang berbeda dibanding berjualan secara konvensional," ungkap dia.
Selain hal tersebut, ada tantangan lain yang harus dipahami pelaku retailers yang ingin masuk ke online, yakni menghapus keraguan konsumen terhadap tingkat keamanan belanja ecommerce.
Dari data yang disebutkan PwC, ternyata faktanya 65 persen orang masih takut akses digitalnya diretas orang. Karena itu, 55 persen orang menyebut hanya percaya pada provider yang sudah mereka percayai. Oleh karena itu, hal ini juga perlu dipahami oleh perusahan-perusahaan yang ingin masuk di ranah online.
(mdk/idc)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya