Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Setengah miliar manusia akan lenyap di tahun 2100

Setengah miliar manusia akan lenyap di tahun 2100 Antrean warga naik TransJakarta. ©2013 Merdeka.com/Dwi Narwoko

Merdeka.com - Tidak bisa dipungkiri saat ini jumlah penduduk bumi terus tumbuh tanpa bisa dikendalikan. Namun, hal itu sepertinya tidak akan bertahan selamanya.

Ilmuwan IIASA meluncurkan sebuah buku berjudul "World Population and Human Capital in the 21st Century" yang memprediksi bila jumlah manusia akan mencapai puncaknya di tahun 2070. Jumlah manusia sekitar 60 tahun ke depan diperkirakan mencapai 9,4 miliar jiwa, atau mengalami penambahan sekitar 2 miliar orang lebih dari saat ini.

Akan tetapi, berselang 30 tahun kemudian jumlah penduduk bumi justru dikatakan menurun oleh IIASA. Pada tahun 2100 jumlah manusia menurun hampir setengah miliar, menjadi hanya 9 miliar jiwa saja, bahkan bisa mencapai 8 miliar.

Laporan dari IIASA ternyata berbanding terbalik dengan laporan dari PBB. Menurut PBB, jumlah manusia di bumi pada tahun 2100 justru mencapai puncaknya, yakni sekitar 11 miliar jiwa! Ledakan jumlah penduduk itu disebabkan oleh naiknya jumlah penduduk di negara-negara berkembang, misalnya Nigeria.

Jumlah penduduk Nigeria akan meningkat hingga hampir 6 kali lipat di tahun 2100. Saat ini jumlah penduduk salah satu negara di Afrika itu hanya 160 juta jiwa, namun di tahun 2100 jumlahnya diperkirakan sudah sekitar 914 juta jiwa.

Di sisi lain, penurunan jumlah penduduk bumi secara drastis hanya bisa dikurangi dengan pendidikan, Phys.org (23/10). Berdasarkan buku IIASA yang dibuat dari penelitian 550 ahli itu, wanita diprediksi akan semakin melek pendidikan yang akhirnya merubah 'kedudukan' mereka dalam keluarga.

Dengan semakin meningkatnya dominasi wanita dalam keluarga, jumlah kelahiran akan semakin menurun. Wanita akan lebih disibukkan dengan pekerjaan serta tanggung jawab lain yang membuat melahirkan anak menjadi sebuah pilihan sulit.

"Saat wanita lebih berpendidikan, mereka mendapatkan kekuasaan lebih atas keputusan untuk melahirkan anak dan ukuran dari sebuah keluarga. Hal ini kerap diartikan mempunyai anak yang lebih sedikit," ujar Wolfgang Lutz, salah satu pimpinan ilmuwan IIASA. (mdk/bbo)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP