Sempat mati, sekarang film 3D makin menjamur
Merdeka.com - Penerapan teknologi 3D dalam industri perfilman merupakan tren tersendiri. Siapa sangka, teknologi ini mampu bertahan hingga dua abad lamanya.
Penggunaan 3D dalam dunia perfilman sendiri pertama kali diketahui dari William Friese-Greene di akhir tahun 1890-an. Saat itu, Friese-Greene mendaftarkan sebuah paten untuk pembuatan film 3D pertama di dunia.
Film yang dibuat oleh William Friese-Greene ini menggunakan dua film yang diproyeksikan berdampingan di atas layar. Pemirsa diminta untuk melihat melalui stereoskop agar film yang dilihatnya mampu menghasilkan persepsi 3D.
Ternyata, apa yang dilakukan oleh William Friese-Greene ini mengilhami banyak pelaku industri perfilman untuk menerapkan metode serupa. Hingga, pada akhirnya film dengan teknologi 3D menjamur dan sempat meraih masa keemasannya pada tahun 50-an.
Di tahun ini, film seperti Bwana Devil (1952), Sunday In Stereo (1953), Indian Summer (1953), American Life (1953), This is Bolex Stereo (1953), hingga Adventures in Music: Melody (1953) menggunakan teknologi 3D ini. Sayangnya, dari berbagai film yang muncul saat itu, semuanya masih berdurasi sangat pendek.
Film berteknologi 3D yang menerapkan stereoskopik ini kemudian sempat mati pada tahun 60 hingga 80-an. Akhirnya, dengan mengusung format baru, IMAX, 3D kembali mengangkasa hingga awal milenium baru (2003).
Sejak 2003 hingga sekarang, teknologi 3D dalam industri film kemudian mengalami perkembangan yang sangat pesat. Akhirnya, banyak produsen pun mulai melirik film-film berdurasi penuh dan mengusung sistem kamera beresolusi sangat tinggi.
Di era ini, film-film besar seperti Shrek Forever After (2010), Alice in Wonderland (2010), hingga The Final Destination (2009) semuanya menggunakan terapan teknologi 3D. Bahkan, beberapa film yang digarap 2D seperti Titanic (1997) dan Jurrasic Park (1993) kembali dihidupkan dengan dibumbui teknologi 3D.
Dari berbagai sumber (mdk/nvl)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya