Perguruan Tinggi harus total dukung '1000 technoprenuer digital'
Merdeka.com - Pengamat sekaligus akademisi di bidang teknologi informasi (TI), Budi Raharjo, mengatakan, saat ini semangat perguruan tinggi untuk berkontribusi menciptakan lahirnya startup baru tak perlu diragukan lagi.
Beberapa perguruan tinggi mengklaim siap untuk berkontribusi mendorong lahirnya wirausahawan digital. Hal ini tentu saja seiring dengan rencana pemerintah menciptakan 1000 technopreneur digital hingga tahun 2020.
Namun di sisi lain, kata dia, sistem pendidikan di perguruan tinggi saat ini masih belum sepenuhnya bisa mendorong lahirnya startup di setiap kampus. Indikator utamanya adalah metode pengajaran dan pola pikir perguruan tinggi yang dianggap masih konvensional.
"Kalau menurut saya, perguruan tinggi saat ini masih menggunakan metode lama atau konvensional. Hanya mengajar-mengajar seperti biasa saja, sehingga hal itu masih sekadar lips service semata," ujarnya saat ditemui di sebuah kesempatan di Jakarta, belum lama ini.
Budi menambahkan, penyelenggara pendidikan perguruan tinggi saat ini masih belum bisa memfasilitasi hasrat dari para mahasiswa untuk bekerja melakukan ekperimennya di kampus secara maksimal. Sebagai contoh, saat mahasiswa sedang giat-giatnya bekerja menciptakan sebuah produk di kampus, pihak kampus justru kurang tanggap.
"Kalau di mana-mana yang namanya mendukung startup, kampus itu harus membebaskan mahasiswanya dengan memfasilitasinya. Mahasiswa itu kerja di kampus, pakai listriknya kampus, pakai ruangan kampus, untuk memulai usahanya. Kalau sekarang, belum apa-apa mahasiswanya diusir-usirin, 'dah kamu pulang-pulang, gak boleh pakai ini itu', gitu. Jadi culture juga belum kebentuk," katanya.
Diakuinya juga, tolok ukur keberhasilan suatu penyelenggara perguruan tinggi, masih menitikberatkan pada jumlah karya tulis yang dihasilkan. Bukan seberapa banyak wirausahawan digital yang ciptakan. Di satu sisi, hal itu juga sesuai dengan riset dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi (KemenRisTekDikti) yang menyebutkan jika penelitian di ranah TI di perguruan tinggi begitu banyak dan diharapkan bisa didorong menjadi perusahaan rintisan teknologi.
"Bagi perguruan tinggi saat ini lebih baik menghasilkan 10 paper daripada 10 startup. Kalau di luar negeri itu udah beda, misalnya saja di Standford University, bahkan di korea pun sudah berbeda. Perguruan tinggi di sana menghasilkan berapa startup itu jadi tolok ukur. Tapi kelak di negeri ini juga bisa seperti itu, yang jelas butuh waktu lama, 10 -15 tahun. Kemungkinan sudah maju," terang Budi.
(mdk/bbo)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya