Peredaran software palsu di situs e-commerce diduga besar
Merdeka.com - Tren belanja via internet di situs e-commerce Indonesia rupanya menjadi pintu masuk bagi peredaran barang-barang palsu. Meski belum diteliti secara cermat, Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan (MIAP) menduga peredaran barang-barang palsu di ranah digital sudah tinggi.
Justisiari P Kusumah, Sekretaris Jenderal MIAP, menjelaskan besarnya peredaran barang palsu dan bajakan di pasar online, lantaran pasar online tidak memiliki interaksi langsung antara pedagang dan pembeli, untuk mengetahui atau mengecek barang tersebut asli atau tidak.
"E-commerce jadi celah baru (jalur pemalsuan). Kalau dulu traditional market, sekarang online karena tiada interaksi fisik antara penjual dan pembeli. Untuk software misalnya, diperkirakan 80 persen yang dijual secara online diragukan keasliannya alias diduga palsu. Tapi ini baru dugaan awal, bukan hasil riset MIAP yang biasa dilakukan setiap tiga tahun," ujar Justisiari, saat menghadiri penandatanganan nota kesepahaman antara Microsoft Indonesia dengan pelaku e-commerce seperti Blanja.com, Bhinneka.com, dan Blibli.com di Jakarta, Selasa (29/11).
Justi menegaskan MIAP setiap tiga tahun melakukan riset ilmiah terhadap peredaran barang palsu di tanah air dan potensi kerugiannya. Tapi, peredarannya ini masih di pasar offline. Belum menyentuh pasar online.
Nah, berdasarkan riset MIAP per 2014, ada tujuh komoditas barang yang sering dipalsukan. ketujuh komoditas yang sering dipalsukan tersebut adalah tinta printer dengan persentase 49,4 persen. tertinggi kedua, pakaian (38,9 persen), produk kulit (37,2 persen), software (33,5 persen), kosmetik (12,6 persen), makanan (8,5 persen), dan obat-obatan (3,8 persen).
"Kenapa tinta printer yang paling tinggi? Alasannya karena kebutuhan dan efeknya kecil bagi konsumen. Sedangkan obat paling rendah, karena konsumen tahu kalau mengonsumsi obat palsu risikonya tinggi bisa sakit atau mati," ucap dia.
Menurut dia, kampanye Clean E-Commerce yang digalang Microsoft Indonesia dengan menggandeng Bhinneka, Blibli, Blanja, JD, dan Lazada Indonesia bisa menjadi cara untuk memberangus produk palsu, khususnya soal piranti lunak. "Ke depan harus ada kerja sama sinergi untuk peredaran barang palsu di online, baik itu brand dan juga pelaku e-commerce. Sebab, persoalan ini tak bisa dilakukan sendirian," pungkas dia.
(mdk/ega)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya