Pengguna internet Indonesia 2016 mencapai 132,7 juta
Merdeka.com - Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) baru saja merilis survei jumlah pengguna internet di Indonesia untuk tahun 2016. Dalam hasil survei tersebut, terungkap jika jumlah pengguna internet di Indonesia semakin meningkat. Jika pada tahun 2014 lalu pengguna internet 88,1 juta, tahun 2016 meningkat 14,4 persen atau menjadi 132,7 juta pengguna.
"Pertumbuhan rata-rata berada di mobile. Ini karena kalau kita lihat rata-rata orang memiliki lebih dari satu ponsel. Akses internet paling mudah juga di mobile. Kita mau melakukan aktivitas apa sekarang di mobile, misalnya baca e-mail," ujar Ketua Umum APJII, Jamalul Izza di Jakarta, Senin (24/10).
Merujuk dari data terbaru itu, sebanyak 92,8 juta pengguna mengakses internet memang melalui mobile. Meskipun jumlah pengakses internet banyak yang menggunakan mobile, namun menariknya jumlah pengguna yang memanfaatkan warung internet juga masih tinggi, mencapai 2,1 juta.
Hasil riset terbaru itu pun menunjukkan penetrasi internet ini sudah mencapai 51,8 persen dari total populasi. Sebagian besar memang masih terkonsentrasi di Pulau Jawa yang mencapai 65 persen atau sekitar 86,5 juta pengguna. Maluku dan Papua menjadi kawasan dengan tingkat penetrasi terendah yang hanya 2,5 persen dari total populasi.
APJII tentu tak sendirian dalam melakukan survei ini. Asosiasi yang berdiri sejak tahun 1996 ini menggandeng Lembaga Polling Indonesia (LPI). Bagaimana dengan metodologinya? Metodologinya adalah dengan melakukan tatap muka dengan metode multi step random sampling yang dilakukan secara bertahap.
Dikatakan Analis dari LPI Yonda Nurtakwa, tahap pertama survei dilakukan dengan melihat penetrasi pada 1.250 sampel pada periode 1-11 Juni 2016. Kemudian, hasil dari survei tersebut digunakan untuk melanjutkan ke tahap selanjutnya. Adapun survei berikutnya melihat perilaku pengguna. Pengambilan sampelnya secara random pada 2.000 orang. Pengambilan kedua sampel tersebut disesuaikan dengan prosentase jumlah penduduk di suatu daerah.
"Jadi kalau provinsi di Jawa, kebetulan populasinya besar, jadi sampel yang diambil lebih banyak. Berbeda dengan daerah di Kalimantan, Sulawesi, atau Maluku," jelasnya.
(mdk/idc)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya