Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Pengaruh sihir Silicon Valley

Pengaruh sihir Silicon Valley Silicon Valley. © Solarfeeds.com

Merdeka.com - Silicon Valley membuat pengaruh besar di Asia. Pengaruhnya tentu bagus; tapi saya merasa bahwa pengaruh tersebut tidak dapat diterapkan. Kenyatannya, Amerika bukanlah Asia. Kita sangat berbeda dalam hal budaya, ekonomi, dan infrastruktur. Jadi apa yang kita pelajari dari bermacam-macam blog di Silicon Valley akan sulit diterapkan di Asia, meskipun semangat entrepreneurship di seluruh dunia tetap sama.

Tampaknya banyak orang yang membangun produk di Singapura sangat tertarik tentang apa yang terjadi di Silicon Valley, bukan yang terjadi di kawasan Asia. Orang-orang di industri ini mengejek China dan Indonesia ketika kami terus membahas mereka. Ketika saya menulis tentang Sina Weibo, orang-orang mengatakan bahwa Sina Weibo lebih jelek dibanding Twitter. Kenyatannya tidak. Ada banyak hal yang luar biasa sedang terjadi di Asia ketika kita membicarakan hal ini.

Efek Silicon Valley mungkin telah membentuk sebuah persepsi yang kuat tentang bagaimana sebuah startup harusnya berfungsi. Katakanlah Anda membangun sebuah startup e-commerce di Singapura. Anda akan berasumsi bahwa logistiknya bagus karena jalanan Singapura yang lancar dan sistem transportasi yang bagus. Pembayaran online bukanlah masalah karena kebanyakan orang di negara ini menggunakan kartu kredit atau PayPal. Dan mungkin di Singapura, Anda akan melayani banyak smartphone, karena iPhone sangat popular di sini. Semua hal tersebut hampir serupa dengan Amerika. Tapi di tempat lain, Indonesia misalnya, semuanya berbeda.

Di Indonesia, sistem e-payment belum siap. Logistik tidak bagus. Ditambah lagi dengan masalah bahasa. Startup Asia yang sangat tertarik pada Amerika dan tidak mau mempertimbangkan kesempatan di sekitar mereka menurut saya tampak seperti seseorang menyelam di lautan yang berisi ikan hiu.

Beberapa mungkin berpendapat bahwa negara seperti Indonesia atau India belum siap. Sebagian memang benar, karena ada masalah infrastruktur di sana. Tapi kesempatan juga mulai muncul di sana. Jika Anda ingin mendirikan perusahaan – baik itu perusahaan e-commerce atau sistem e-payment, Anda akan segera mendapatkan banyak uang. Butuh kolaborasi dan penyelesaian masalah. Seperti yang dilakukan mig33 dengan sistem pembayarannya di negara berkembang, atau kolaborasi Zalora dengan Go-Jek (sebuah startup yang mengatur ojek di Indonesia ) sebagai mitra logistiknya.

Asia adalah pasar yang ramah. Sebagai warga Singapura, kami setidaknya secara budaya lebih dekat dengan negara-negara Asia lainnya. Bepergian ke negara-negara Asia juga jauh lebih mudah. Jakarta dan Kuala Lumpur bisa ditempuh hanya dalam waktu 1,5 jam dengan pesawat dari Singapura, sedangkan untuk ke Beijing perlu sekitar lima jam.

Ada banyak sekali orang-orang di Amerika ingin mendirikan perusahaan di Asia, karena benua ini akan punya peran besar di ekonomi dunia nantinya. Sebagai orang Asia, bodoh untuk tidak memanfaatkan keuntungan di rumah sendiri. Jadi sembari Anda membaca apa yang terjadi di Silicon Valley, perhatikan juga di mana potensi berada. Dan bagi saya, tentu di Asia.

Artikel ini pertama kali muncul di Tech in Asia Indonesia (mdk/ega)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP