Soal OTT Global, Menkominfo: Jangan ajak \'perang\' langsung
Merdeka.com - Dalam kunjungan ke Amerika Serikat pada 25 Oktober 2015 nanti, Presiden RI Jokowi berencana akan menemui bos-bos perusahaan teknologi raksasa di sana, termasuk Over The Top (OTT) seperti Facebook dan lain sebagainya.
Di sisi lain, Ketua Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI), Alexander Rusli, berharap kedatangan Jokowi ke AS mampu menjembatani antara operator telekomunikasi dan OTT yang saat ini masih menjadi polemik soal sharing benefit.
"Banyak konten yang dipakai pelanggan-pelanggan di smartphone yang banyak berasal dari Amerika Serikat. Kita berharap ada kerja sama lebih banyak lagi. OTT player terutama, supaya bisa sharing benefit," katanya belum lama ini.
Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Rudiantara, pun berkomentar soal itu. Menurutnya, untuk langsung berhadapan dengan OTT global seperti mereka agak sulit. Pasalnya, kehadiran mereka juga tak bisa dilarang.
"Waktu itu, memang kita lagi cari cara soal itu. Kita tidak bisa melarang mereka masuk Indonesia. Yang bisa lakukan adalah mendorong adanya OTT nasional. Gak boleh naif ajak perang langsung," tuturnya di Jakarta, Selasa, kemarin (20/10).
Kata dia, dibutuhkan strategi yang matang untuk menghadapi OTT raksasa. Salah satunya adalah dengan cara operator telekomunikasi bekerjasama dengan OTT nasional.
Namun, hingga saat ini progress kerjasama dengan OTT nasional belum ada kabar yang lebih menggembirakan lagi. Masih sebatas di ranah pemilihan OTT nasional tersebut. Kabarnya, ada 4 sampai 5 OTT nasional yang akan bekerjasama dengan operator telekomunikasi.
"Pihak ATSI sudah siapkan kriterianya. Tanyakan ke pihak ATSI," jelasnya.
Selain itu, pria yang akrab disapa Chief RA ini, juga menyatakan memantau terus diskusi di Europe Commission di Eropa terkait OTT Internasional. Europe Commission di Eropa sedang melihat kemungkinan OTT internasional menjadi subjek lisensi. Seperti halnya operator telekomunikasi.
"Dalam hal ini Europe Commission, mereka akan menerapkan lisensi untuk OTT di Eropa. Tapi itu masib tarik ulur. Saya sedang pantau terus soal diskusi itu," katanya.
Sebagaimana diketahui, dia pernah berujar jika Europe Commission mengetuk palu adanya subjek lisensi bagi OTT, maka ia mengatakan Indonesia secepatnya akan mengikuti langkah mereka.
"Kalau Eropa 2016 menerapkan, kita akan ikut. Secepatnya gak perlu tahun 2017. Saya juga akan siapkan kerangka peraturannya. Bahwa itu nanti aturannya berbentuk Peraturan Menteri (Permen) atau apa belum tahu. Tapi begitu mereka terapkan kita ikuti," ujarnya.
(mdk/bbo)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya