Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Operator harus dapat kompensasi layak dari OTT

Operator harus dapat kompensasi layak dari OTT Ilustrasi layanan Over the Top (OTT). ©2012 Merdeka.com

Merdeka.com - Operator telekomunikasi belum menemukan model bisnis yang tepat terkait meledaknya over the top (OTT) meski aplikasi tersebut telah menyedot bandwidth operator sangat besar.

Anggota BRTI Nonot Harsono mengatakan operator seharusnya mendapatkan kompensasi yang layak dalam penggunaan jaringannya oleh OTT.

"Saya sudah bicara hal ini empat tahun yang lalu, bahwa layanan aplikasi asing harus menyediakan datacenter dan server di Indonesia," ujarnya di sela-sela Roundtable Discussion mengenai OTT yang digelar Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel), Kamis (5/12).

Menurut dia, model bisnis antara operator dan OTT bisa berupa bayar per bandwidth yang dipakai, sedangkan konten atau aplikasi asing bisa meraih pendapatan dari iklan.

Dengan model bisnis tersebut, tambahnya, pelanggan bisa tetap menggunakan layanan OTT secara gratis.

Nonot menilai operator sudah berdarah-darah karena jaringannya banyak dipakai OTT melalui smartphone seperti BlackBerry.

Sementara itu, Plt Dirjen Penyelenggara Pos dan Informatika Kalamullah Ramli mendesak agar pengembang konten lokal dan operator bersinergi untuk menciptakan konten lokal, sehingga bandwidth tidak banyak lari ke luar negeri.

"Indonesia jangan hanya menjadi pasar bagi konten dan aplikasi asing, tetapi juga mesti menciptakan konten sendiri," tegasnya. (mdk/dzm)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP