Menkominfo sebut kena bully gara-gara 'puasa' media sosial
Merdeka.com - Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara, menyebut dirinya kena bully lantaran mengimbau masyarakat agar 'puasa media sosial'. Hal itu ia katakan melalui akun twitter resminya, @rudiantara_id.
Sebelumnya, pria yang akrab disapa Chief RA ini mengatakan seperti itu setelah melakukan pertemuan dengan perwakilan Facebook Indonesia. Pertemuan tersebut terkait kebocoran 1 juta data pengguna negeri ini.
Kala itu, ia menyatakan agar dalam situasi yang kurang kondusif ini, masyarakat diimbau agar tak menggunakan media sosial sementara waktu.
"Kami himbau kepada masyarakat apabila gak penting-penting banget, gak usah pakai media sosial dulu deh sampai semua selesai. Ya kalau tidak perlu, gak papalah puasa dulu. Sampai kita rapikan ini lagi," ujarnya di Gedung Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), Jakarta, Kamis (5/4), kemarin.
"Kalau pun terpaksa, pilih-pilih juga hati-hati mengenai informasi dari platform media sosial. Ini bagian dari literasi ke masyarakat," katanya.
Pernyataannya itu, justru membuat menkominfo yang akrab disapa Chief RA tersebut, dibully masyarakat.
"IMBAUAN KEPADA MASYARAKAT. Nah ini.. Saya di-bully ketika mengimbau agar 'puasa medsos'," kicaunya.
Menurutnya, selain hanya bisa mengandalkan pendekatan regulasi, pemerintah juga harus menjalankan fungsi edukasi dan literasi masyarakat, seperti mengimbau dan mengingatkan.

Terkait 'curhatnya' itu, warganet pun turut berkomentar. Komentar yang mereka sampaikan rata-rata memberikan saran.
"Pak Rudi benar. Banyak penggunaan komentar&status media sosial yang tdk tepat. Tidak didasari fakta&data akurat, cenderung mengutamakan kepentingan golongan drpd Kepentingan Persatuan & Kesatuan Bangsa. Lebih baik puasa media sosial drpd tidak bijak bermedia sosial. Semangat Pak!" @meirinaayumurti.
"Sabar pak. Hehehe," @zianti_tania.
"Mungkin perlu disosialisasikan mengenai apa yang perlu dilakukan sebagai user FB sebagai pencegahan atau perlindungan informasi pribadi mis. informasi apa saja yang perlu atau tidak perlu ada di FB," @bagusk2001.
Sebagaimana diketahui, berdasarkan siaran pers Facebook, Rabu (4/4), mereka mengakui bahwa terdapat 87 juta data yang dimungkinkan disalahgunakan oleh Cambridge Analytica.
Dari 87 juta data yang kebobolan, sebagian besar adalah pengguna Facebook dari Amerika Serikat atau sekitar 81,6 persen data disalahgunakan. Selain Amerika Serikat, ada beberapa negara termasuk Indonesia.
Indonesia masuk urutan ketiga data yang disalahgunakan. Sekitar 1,3 persen dari 87 juta. Di atas Indonesia, ada Filipina yang kemungkinan besar penyalahgunaan data pengguna dari negeri itu sekitar 1,4 persen. Selain ketiga negara itu di antaranya Inggris, Mexico, Kanada, India, Brazil, Vietnam, dan Australia.
(mdk/ega)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya