Masih minim perguruan tinggi melakukan transformasi digital
Merdeka.com - Booming transformasi digital saat ini, tak bisa dibendung. Semua lini sektor merasakan imbas dari percepatan teknologi. Tak terkecuali dengan dunia pendidikan.
Ivan Sangkereng, IT Director Bina Nusantara mengatakan, perkembangan teknologi yang begitu cepat, mau tidak mau dunia pendidikan juga harus mengikuti. Ini karena, anak-anak didik telah menggunakan teknologi dalam kehidupan setiap harinya.
Maka itu, tak bisa dimungkiri adopsi teknologi oleh beberapa perguruan tinggi di Indonesia sudah mulai terlihat. Beberapa perguruan tinggi mengadopsi kemutakhiran teknologi sejak 2 sampai 3 tahun lalu.
"Implementasi teknologi sudah dilakukan beberapa perguruan tinggi seperti misalnya Bisnis Inteligence," jelas dia saat ditemui usai acara Microsoft Solution Warehouse 2018 di Jakarta, Selasa (25/9).
Hanya saja, meski pelan-pelan mulai diterapkan, adopsi teknologi perguruan tinggi cenderung masih minim. Universitas di Jakarta saja misalnya, hanya baru hitungan jari yang telah menerapkan tranformasi digital.
"Jakarta itu hitungan jari baru 5-6 universitas. Kebanyakan pun dari perguruan tinggi swasta. Kalau perguruan tinggi negeri, baru melakukan transformasi infrastruktur. Sederhananya, swasta lebih banyak software dalam bentuk pembelajaran," ungkapnya.
Menurutnya, persoalan ini ada 3 sebab yang menghambat perguruan tinggi melakukan transformasi digital. Pertama soal dana. Namun soal ini, Ivan mengira semua perguruan tinggi mampu melakukannya.
"Soal dana memang tergantung dari teknologinya. Tapi rata-rata itu investasinya bisa mencapai Rp 200 juta per tahun. Itu udah bisa transformasi ke beberapa sektor yang mengena ke customer," kata dia.
Kemudian, hambatan yang kedua adalah sumber daya manusia. Kebanyakan sumber daya manusia belum siap untuk melakukan transformasi digital.
"Lalu yang ketiga adalah akses kepada teknologi," terang dia. (mdk/faz)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya