Langkah tepat operator selular hentikan bisnis e-commerce
Merdeka.com - Bisnis e-commerce memang menarik. Cikal bakal bisnis besar di masa mendatang. Namun, bisnis ini terbukti tak berlaku bagi siapa saja yang masih hitung-hitungan soal investasi. Itu salah satu syaratnya. Di Indonesia, Cipika dan Elevenia pun angkat tangan. Padahal dua e-commerce itu masing-masing dinaungi operator selular besar, Indosat Ooredoo dan XL.
Bila Indosat Ooredoo memilih suntik mati Cipika, lain hal dengan XL. XL dan partnernya SK Planet baru-baru ini memilih menjual seluruh saham mereka di Elevenia. Perusahaaan yang berdiri pada 2014 lalu merupakan hasil patungan antara XL dengan SK Planet yang masing-masing perusahaan itu memiliki saham 50 persen. Dijualnya 100 persen sahamnya itu kepada PT Jaya Kencana Mulia Lestari dan Superb Premium Pte. Ltd, lantaran persaingan e-commerce di Indonesia semakin ketat.
“Apalagi pemain-pemain besar dari luar negeri berdatangan. Karena itu, kami memutuskan untuk melepas Elevenia,” kata Presiden Direktur & CEO XL Axiata, Dian Siswarini saat ditemui di Gedung Graha XL, Jakarta, Selasa (29/8).
Menurutnya, persaingan yang semakin ketat maka berdampak terhadap modal besar yang harus digelontorkan lagi. Sementara XL dan SK Planet telah mengeluarkan modal yang tak kalah besar selama tiga tahun ini.
Di sisi lain, kata Dian, seiring dengan banyaknya pesaing maka profitabilitas e-commerce juga akan mengecil. Oleh sebab itu, XL dan SK Planet memutuskan untuk melepas 100 persen sahamnya.
“Dengan persaingan yang semakin ketat, bleedingnya bisa jadi lebih besar lagi. Telekomunikasi kan butuh dana besar, untuk bertahan di e-commerce juga butuh dana besar. Karena itu kami memutuskan kembali ke fokus bisnis kami,” ungkapnya.
Langkah XL dan Indosat Ooredoo mundur dari bisnis e-commerce dianggap tepat. Setidaknya itu menurut pandangan dari pengamat e-commerce Daniel Tumiwa. Kata Daniel, tidak ada perusahaan telekomuniasi di seluruh dunia yang berhasil menjalankan e-commerce.
“Langkah bagus. Tapi untuk sementara waktu langkah tepat untuk menutup, agar para pemilik saham perusahaan Telco bisa mendapat return lebih besar,” ungkapnya.
Selain itu, Daniel menganggap bahwa saat ini perusahaan operator selular belum bisa memperlakukan secara tepat bisnis e-commerce. Misalnya saja, cara struktur perusahaannya yang masuk ke dalam balance sheet telco, sehingga mengganggu balance sheet serta mengurangi keuntungan perusahaan.
“Masih banyak lagi isu lainnya. Tapi itu salah satunya,” kata dia.
(mdk/idc)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya