Ketika 140 karakter mampu ubah dunia
Merdeka.com - Twitter memang tidak bisa dipisahkan lagi dari kehidupan kita. Bahkan, saking pentingnya teknologi ini, dampak yang dihasilkan pun cukup besar.
Seperti pada pemberitaan sebelumnya, terlihat bagaimana kesadaran berpolitik yang mulai tumbuh di jejaring sosial. Maka, tidak heran, banyak pula calon kepala daerah hingga presiden sekalipun membuat sebuah akun di social media.
Tujuannya? Tentu saja menyampaikan pandangan politik mereka. Dari pandangan-pandangan ini, nantinya akan disampaikan pula apa yang sedang mereka lakukan dan apa latar belakangnya.
Selain itu, tentu saja, ada tujuan untuk menggaet lebih banyak pemilih ketika masa pemilihan umum datang. Maka, tidak heran juga, kalau mereka yang menang di percaturan politik ini yang mengetahui bagaimana kekuatan dari situs microblogging satu ini.
Sebagai contoh, Barack Obama. Siapa sangka, presiden dengan kulit berwarna pertama AS ini akan terpilih menjadi presiden. Padahal, lawannya kala itu adalah John Mc. Cain, kandidat dari partai petahana kala itu, Republik.
Namun, strategi Obama yang masuk ke dunia internet terbukti berhasil. Dirinya pun akhirnya mampu menjadi presiden AS pertama dari kalangan minoritas.
Jasa internet ini pun tidak dihentikannya hingga kini. Tercatat, aktivitas politik Obama terangkum di akun Twitter pribadi miliknya.
Contoh lain pun bisa terlihat dari berbagai pergolakan revolusi di Semenanjung Arab. Siapa sangka, lewat 140 karakter (baca: Twitter), sebuah negara besar seperti Mesir bisa menggelorakan revolusi.
Akibatnya, Presiden Husni Mubarak pun dilengserkan rakyatnya sendiri. Hal ini pula yang akhirnya memicu berbagai pergolakan rakyat serupa di negara-negara Arab lainnya, seperti Libya, Tunisia, dan Yaman.
Selain itu, masih banyak pula berbagai sejarah dunia yang dimulai hanya dari sebuah tweet. Mulai dari perannya dalam dunia politik hingga menghancurkan suatu pihak, Twitter seakan memiliki kekuatan yang tak terbatas.
Meski begitu, nyatanya Twitter tidak bisa disebut memiliki kuasa akan hal ini. Twitter hanyalah sebuah perantara saja.
Hal ini disampaikan pula oleh Sascha Meinrath, Direktur New America Foundation's Open Technology Initiative. Menurutnya, internet, dalam hal ini sosial media, memiliki peran sama dengan pamflet maupun selebaran di masa lalu.
"Dalam hal yang sama, pamflet tidak menghasilkan Revolusi Amerika, jejaring sosial pun begitu. Jejaring sosial merupakan pamflet di abad 21, sebuah cara agar orang bisa mengatur dan membuat sebuah gerakan," terangnya.
Jadi, jangan pernah remehkan internet! 140 karakter saja sudah bisa mengubah negara.
Sumber: Policymic dan Wired (mdk/nvl)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya