Ini manfaat Amvesindo bagi Startup Indonesia
Merdeka.com - Perusahaan rintisan (startup) teknologi dan modal ventura atau venture company berada dalam ekosistem sama di industri digital Indonesia. Dalam bisnis model industri ini, perusahaan modal ventura biasanya menjadi pemodal buat startup teknologi. Contohnya, East Ventures yang mendanai startup Scoop dan Tokopedia, kemudian Ideosource dengan Bhinneka dan Stockbit, dan lain-lain.
Namun, bagaimana jika keduanya bergabung dalam satu asosiasi? Ya, Asosiasi Modal Ventura dan Startup Indonesia (Amvesindo) yang berdiri medio Mei lalu menjadi satu wadah yang memadukan perusahaan modal ventura konvensional dan teknologi dengan startup.
Lantas, apa manfaat asosiasi ini bagi tren startup di Indonesia?
Jefri R Sirait, Ketua Umum Amvesindo, menjelaskan selama ini secara alamiah startup mencari sendiri investor atau pihak yang bisa membiayai mereka. Di sisi lain, perusahaan modal ventura juga mencari sendiri startup menarik yang ingin didanai. Dengan berada di asosiasi sama, startup dan perusahaan modal ventura bisa melakukan diskusi terhadap banyak hal. Misalnya dari sisi startup, bagaimana cara melakukan valuasi satu startup, sehingga identifikasi masalah bisa dilakukan lebih cepat.
"Nah, bayangkan jika semua ada di satu tempat. Ada startup dan ventures company, maka semua jadi lebih mudah. Bayangkan kalau pengetahuan itu ada di satu tempat dan bisa distandarkan. Ini lah idealisme kami yang mau dibangun. Sinergi seperti ini bisa membuat satu tambah satu menjadi lima," kata Jefri kepada Merdeka.com di kantornya, belum lama ini.
Kata Jefri, secara umum asosiasinya terbuka untuk mendukung setiap startup di Indonesia. Namun, secara organisasi, asosiasinya memiliki empat kompartemen yang sesuai dengan fokus sektor industri digital, yakni financial technology (fintech), education technology (edutech), healthy technology (healthtech), dan kreatif yang terkait dengan 18 sektor industri kreatif yang dikelola Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).
Manfaat lain bagi startup disampaikan oleh Edward Ismawan Chamdani, Bendahara Amvesindo. Kata dia, buat startup ada akses permodalan yang lebih mudah, sebab asosiasi mendorong industri modal ventura di Indonesia lebih sehat lewat peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang friendly dan ada kepastian hukum terhadap dana ventura yang dikelola. Dengan begitu, dana ventura di Indonesia semakin besar yang semakin mudah diakses oleh startup.
Secara tidak langsung ada reformasi OJK terhadap perusahaan modal ventura lewat Peraturan OJK No 35/2015 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Modal Ventura. Reformasi tersebut ada kaitannya juga dengan agenda pemerintah berikutnya soal pengampunan pajak (tax Amnesty).
"Dengan tax Amnesty, dana yang antre di luar negeri bisa repatriasi ke Indonesia. Pemerintah ingin, begitu dana itu masuk, opsi investor memilih tipe portofolio investasi lebih terdiversifikasi. Jika peraturannya lebih friendly dan benchmark ke negara tetangga lebih baik, tidak ada opsi parkir dana di luar negeri. Benefitnya, dana ventura yang masuk makin besar, pilihan investasi portofolio lebih siap yang ada regulasinya dan dilindungi oleh OJK," ujar Edward.
Hal tersebut semakin relevan, ketika Ideosource, perusahaan modal ventura milik Edward kesulitannya mencari fund raising di Indonesia, sebab investor di luar negeri belum yakin dengan instrumen yang ditawarkan berikut soal pajaknya. "Kalau dana ventura yang diputar makin besar, ekosistem jadi lebih menarik dan mudah bagi investor untuk mendanai startup, baik di tahap early stage, seed funding, atau series A dan B," lanjutnya.
(mdk/bbo)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya