Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Ini alasan gempa bumi sulit diramalkan kedatangannya

Ini alasan gempa bumi sulit diramalkan kedatangannya Base camp Gunung Everest pasca gempa Nepal. ©AFP PHOTO/Roberto SCHMIDT

Merdeka.com - Gempa Nepal dengan kekuatan 7,8 skala Richter telah memakan banyak korban jiwa di Negeri Himalaya itu. Beberapa ilmuwan menyatakan bila jumlah korban bisa ditekan bila pemerintah memiliki teknologi untuk memprediksi gempa tersebut. Namun, menurut penelitian Mark Allen, ilmuwan dari Universitas Durham, memprediksi gempa ternyata tidak semudah yang dibayangkan.

Data gempa tidak sempurna

Hingga saat ini, kebanyakan ahli seismologi hanya mengandalkan data gempa yang terjadi sekitar 40 tahun ke belakang untuk memperkirakan kapan terjadinya gempa di masa depan, Gizmodo (29/04). Ini memang bisa membuat mereka meramalkan gempa bumi jauh-jauh hari, tetapi hampir semua data itu tidak sempurna.

Bahkan di negara-negara yang akrab terkena gempa seperti Indonesia, China, dan Iran, catatan data gempa yang cukup sempurna sulit didapat.

Pusat gempa bisa berubah dan 'bertingkah'

Nah, untuk meramalkan gempa, ahli seismologi kerap membuat pola gempa dengan cara menggabungkan umur gempa dengan luas area terdampak. Namun, sekali lagi cara ini belum cukup ampuh untuk memprediksi gempa, sebab pusat gempa bisa jadi berubah strukturnya. Perubahan itu mengakibatkan gempa bumi yang dihasilkan miliki ciri yang berbeda, bisa lebih lemah atau lebih kuat.

Terlebih, kemunculan sebuah gempa kuat dengan kekuatan di atas 6 skala Richter, seperti yang terjadi di Nepal bisa memicu terjadinya gempa-gempa lain. Hal itu diperparah dengan semakin banyaknya patahan dan lempeng bumi yang saling bergeser dari waktu ke waktu.

(mdk/bbo)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP