Indonesia belum siap hadapi booming OTT
Merdeka.com - Over the top (OTT) atau konten asing bukan hanya booming di Indonesia, tapi juga di dunia. Setidaknya, sejumlah data dan fakta menunjukkan hal itu.
Informa misalnya, mengungkapkan pengguna telekomunikasi akan mengirim 41 miliar pesan sampai akhir 2013, bandingkan dengan pengiriman SMS yang hanya 19,5 miliar pesan.
Selain itu, pengguna OTT diprediksi akan mencapai? 18 persen dari total pengguna ponsel dunia pada 2016.
Adapun, menurut riset Ovum, biaya operator untuk OTT pada 2013 adalah mencapai USD 32,6 miliar. Angka ini akan melonjak menjadi USD 86 miliar pada 2020.
Menurut Asisten Deputi Infrastruktur dan Telematika Eddy Satriya, OTT merupakan persoalan klasik yang tak selesai-selesai.
"Jaringan milik operator dipakai OTT hingga menyedot banyak bandwidth, sedangkan operator tak mendapatkan apa-apa," ujarnya.
Presdir XL Axiata Hasnul Suhaimi menuturkan operator juga belum memiliki strategi khusus menyikapi booming OTT.
"Kalau kita tarifkan per bandwidth, takutnya mereka tak mau dan lari. Operator sebenarnya bisa saja meminta jatah persentase dari penghasilan iklan OTT, tapi saya lihat juga tak seberapa," katanya.
Hal senada diungkapkan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) yang belum menemukan formulasi yang tepat menyikapi perkembangan OTT. (mdk/nvl)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya