Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Implementasi TD-LTE dinilai lebih tepat di pita 2,5 GHz

Implementasi TD-LTE dinilai lebih tepat di pita 2,5 GHz tower BTS. shutterstock.com

Merdeka.com - Teknologi time duplex division long term evolution (TDD-LTE) dinilai lebih tepat beroperasi di pita frekuensi 2,5 GHz.

Sayangnya, pita tersebut saat ini masih dipakai untuk satelit broadcasting SES-7, tempat transponder Indostar-2 bersemayam untuk melayani pelanggan Indovision.

Sekjen Indonesia Wireless Broadband (IDWIBB) Y. Bambang Sumaryo mengatakan pemerintah akan mendapat keuntungan ganda bila memanfaatkan pita 2,5 GHz untuk TD-LTE.

"Pemanfaatan yang massal di seluruh dunia akan menurunkan harga perangkatnya. Keuntungan lainnya, pemerintah akan mendapatkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) lebih besar mengingat biaya hak penggunaan (BHP) frekuensi untuk penyiaran jauh lebih kecil daripada untuk teknologi netral," tuturnya kepada merdeka.com, Kamis (23/5).

Sebagai patokan, BHP frekuensi 3G di 2,1 GHz selama ini 160 M per kanal atau selebar 10 MHz. Sedangkan lebar pita di 2,5 GHz yang bisa dimanfaatkan adalah 150 MHz sehingga pemerintah bisa mengantongi Rp 2,4 triliun.

Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika memberikan penegasan akan diimplementasikannya teknologi telekomunikasi generasi ke-4 atau 4G yang dalam hal ini Long Term Evolution (LTE) di rentang frekuensi 2,3 GHz.

Adopsi TDD-LTE di 2,3 GHz ini bukan dibuka lelang baru yang mana masih tersisa 60 MHz (bahkan beberapa wilayah lebih dari 60 MHz karena ditinggalkan pemenangnya seperti PT Telkom), melainkan memberikan privilege bagi para pemenang lelang di 2009 untuk mengadopsi teknologi netral.

Sehingga, penghuni 2,3 GHz sekarang yang menggunakan teknologi WiMax bisa beralih tanpa bayar tambahan apapun untuk menggunakan teknologi LTE.

Menurut laporan laporan Global mobile Suppliers Association (GSA) dan riset dari Indonesia ICT Institute, sudah ada 163 jaringan komersial operator di 67 negara.

Namun begitu, sebagian besar menggunakan frekuensi 1800 MHz, yang mana 74 operator di 43 negara sudah mengkomersialkan jaringannya dengan 14,27 pengguna. Posisi kedua adalah frekuensi 2,6 GHz dengan 50 operator. Di frekuensi ini, Indonesia sulit mengadopsi karena 150 MHz sudah dialokasikan untuk televisi berlangganan IndoVision.

Untuk 2,3 GHz, dari negara-negara yang sudah meluncurkan LTE secara komersial dan menggunakan TD LTE di frekuensi ini, hanya Australia dan India yang menggunakannya.

Sementara yang menggunakan TDD dan FDD untuk 2,3 GHz, negara lain yang menggunakan adalah Hong Kong, Oman, Arab Saudi dan Sri Langka. Dari kenyataan itu, dapat dikatakan bahwa 2,3 GHz TD LTE tidak begitu favorit di dunia, bahkan masuk tiga besar opsi pemilihan frekuensi untuk LTE pun tidak. (mdk/dzm)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP