Haruskah Indonesia terus menjadi pengekor?
Merdeka.com - Demam jejaring sosial dan aktivitas chatting via mobile menjadi satu fenomena baru selama 2 tahun ini. Namun kenapa masyarakat Indonesia hanya mampu sebagai pengguna?
Dapat diambil contoh seperti Facebook yang dikembangkan oleh Mark Zuckerberg dari Amerika Serikat, walaupun dia berdarah Yahudi, Google yang juga dari Amerika Serikat, aplikasi chat WhatsApp dari Amerika Serikat sampai dengan BlackBerry yang sempat menjadi satu life style berasal dari Kanada.
Memang sudah ada banyak startup atau juga pengembang aplikasi baik yang menghasilkan situs-situs jejaring sosial seperti Facebook, Twitter dan lain-lain atau juga aplikasi seperti Line, KakaoTalk dan lain-lain, atau juga perangkat mobile.
Namun, dipercaya atau tidak, ada satu hal yang menjadikan semua karya anak negeri tersebut kurang begitu dapat melejit secara pesat dan cepat baik dalam negara sendiri atau juga sampai ke luar.
Satu hal yang dimaksud adalah kurangnya sisi menghargai dan ingin menjadikan apa yang telah dihasilkan oleh bangsa sendiri pada diri setiap masyarakat pada umumnya.
Mayoritas, brand minded masih menjadi satu hal yang sangat kuat untuk dapat meninggikan rasa cinta produk dalam negeri. Seperti sebuah gambar yang diunggah oleh pemilik account bernama Trinity, @TrinityTraveler, "Indonesia banget."
Maksudnya, ketika Jepang mempunyai Line, Korea mempunyai KakaoTalk, China mempunyai WeChat, Kanada mempunyai BlackBerry Messenger (BBM), Amerika Serikat mempunyai WhatsApp, Indonesia hanya mempunyai waktu untuk menggunakan semua inovasi dari luar negeri tersebut.
(mdk/das)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya