Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Harbolnas 2015, dikritik YLKI sampai kabarnya tak didukung asosiasi

Harbolnas 2015, dikritik YLKI sampai kabarnya tak didukung asosiasi Hari Belanja Nasional. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengkritik keras adanya Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) lantaran perusahaan e-commerce masih mengesampingkan soal perlindungan konsumen. Terbukti, berdasarkan catatan dari pihaknya, masih ada aduan yang datang dari konsumen soal belanja online.

Kritikan pedas yang dilontarkan dari YLKI itu pun, ditanggapi santai oleh Ketua Panitia Harbolnas 2015, Indra Yonathan. Menurutnya, pihaknya melihat Harbolnas ini dari sudut pandang yang positif sebagai usaha untuk mengembangkan industri e-commerce di tanah air dengan memperkenalkan manfaat belanja online.

"Kita temen-temen e-commerce melihat gerakan gotong royong ini untuk saling membantu. Kita mau membantu konsumen dengan harga yang lebih murah dan prizes belanja yang nyaman. Orang yang tinggal di daerah-daerah di luar kota kota besar bisa membeli barang barang berkualitas yang mungkin pilihannya terbatas di daerahnya masing-masing," ujarnya saat dihubungi Merdeka.com melalui pesan singkat, Kamis (10/12).

"Begitupula kita membantu penjual batik di Juwana sebagai contoh yang mungkin selama ini cuma bisa jualan di daerah Pati Juwana, Jawa Tengah. Sekarang bisa jual sampe ke seluruh pelosok Indonesia," imbuhnya yang juga menjabat sebagai SVP Strategic Marketing Partnership, Lazada Indonesia.

Dia pun mengatakan khusus untuk perlindungan konsumen, di tempat kerjanya di Lazada Indonesia memiliki kebijakan yang dapat memberikan kenyamanan bagi konsumen untuk berbelanja online.

"Konsumen yang melakukan pembelian di tempatnya dapat mengembalikan barang yang mereka beli (tentunya sesuai dengan ketentuan yang ada) dengan adanya kebijakan 'Perlindungan Pelanggan’ dan ‘Jaminan Kepuasan'. Hal ini diharapkan dapat mendorong konsumen di Indonesia untuk mencoba berbelanja online," terangnya.

Kendati demikian, terlepas dari itu semua, Harbolnas 2015 ini di luar tanggung jawab Asosiasi E-Commerce Indonesia (iDEA). Menurut sumber di dalam asosiasi itu yang enggan disebutkan namanya, mengatakan jika acara tersebut merupakan inisiatif yang datang dari para pemain e-commerce, bukan dari iDEA.

"Harbolnas itu kan sebenernya gerakan spontan para pemain e-commerce yang punya niat bagus buat edukasi ke masyarakat. Tetapi, kabarnya mayoritas juga bukan member iDEA yang ikutan," ujarnya ketika ditemui Merdeka.com.

Kendati begitu, dirinya menyayangkan adanya Harbolnas lantaran tak dibuat resmi melalui iDEA. Alhasil, saat dulu awal pertama Harbolnas diadakan, janjinya diselenggarakan pada tanggal 12 Desember namun ternyata dalam realitanya banyak pemain e-commerce yang curi start terlebih dulu melakukan diskon gede-gedean.

"Ini belum-belum pada ribut. Janjinya tanggal 12, tapi saat itu pada curi start semua karena gak diatur. Itu pasti akan kejadian karena tak termanage dengan baik. Tetapi secara pribadi sih saya dukung, hanya asosiasi yang belum bisa," terang dia.

Saat dikonfirmasi mengenai hal itu, hingga berita ini diturunkan, Ketua Harbolnas 2015, Indra Yonathan, tidak menanggapi pertanyaan apakah e-commerce yang ikut dalam Harbolnas kali ini semuanya anggota iDEA atau bukan.

(mdk/bbo)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP