Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Facebook: sebagian besar pengguna datanya pernah bocor

Facebook: sebagian besar pengguna datanya pernah bocor Facebook. © Ideasevolved.com

Merdeka.com - Berangkat dari skandal kebocoran data Facebook yang terungkap beberapa waktu lalu, pada hari Rabu waktu AS, Mark Zuckerberg berbicara pada media soal dimatikannya fitur Facebook yang membuat pengguna dapat mencari pengguna Facebook dari nomor telepon atau alamat email.

Fitur ini memang berguna untuk kita yang ingin mencari seseorang di Facebook. Namun fitur ini telah terbukti disalahgunakan untuk mengambil data dari profil pengguna.

Bahkan melansir Phys, Zuckerberg menyebut bahwa "selama beberapa tahun terakhir, mungkin seseorang telah mengakses informasi Anda dengan cara ini." Hal ini mengimplikasikan bahwa data siapapun bisa dengan mudah bocor, termasuk Anda.

Satu-satunya cara untuk terlepas dari hal tersebut bagi pengguna adalah dengan mematikan fitur itu. Namun alih-alih mematikan, Facebook justru membuatnya hidup dan ada secara default.

Menurut pakar, ini merupakan bentuk kegagalan Facebook sebagai platform jejaring sosial. Pasalnya, tak ada kejelasan soal pengaturan privasi.

"Facebook belum cukup jelas soal bagaimana menggunakan pengaturan privasinya. Bagi saya, itu adalah kegagalan," ungkap Jamie WInterton, direktur strategi untuk Global Security Initiative dari Arizona State University.

Belum ada titik terang

Hal ini merupakan masih berlanjutnya skandal Facebook yang sepertinya belum menemui titik akhir. Sebelumnya, sebagai buntut dari kebocoran data Facebook oleh Cambridge Analytica yang ditujukan untuk 'menggoyang' pemilu presiden AS, ternyata baru ketahuan, ternyata data yang disalahgunakan itu terjadi di hampir seluruh pengguna Facebook di dunia. Berdasarkan siaran pers Facebook, Rabu (4/4), mereka mengakui bahwa terdapat 87 juta data yang dimungkinkan disalahgunakan oleh CA.

Dari 87 juta data yang kebobolan, sebagian besar adalah pengguna Facebook dari Amerika Serikat atau sekitar 81,6 persen data disalahgunakan. Selain Amerika Serikat, ada beberapa negara termasuk Indonesia.

Belum lagi melansir laporan The Verge dan Ars Technica, Facebook juga telah mengumpulkan riwayat panggilan dan data SMS dari smartphone Android selama bertahun-tahun. Hal ini bisa ditemukan dari data file akun Facebook kita yang bisa diunduh.

Selain itu, Menurut laporan Mashable, data kebocoran Facebook yang dikumpulkan oleh Cambridge Analytica belum sepenuhnya dihapus. Hal ini diinvestigasi oleh Channel 4 yang berbasis di Inggris, yang hingga sekarang masih bisa melihat data dari paling tidak 136.000 pengguna Facebook yang ada di sumber Cambridge Analytica.

Belum lagi, soal memo internal perusahaan yang diitulis oleh salah seorang wakil direktur Facebook bernama Andrew Bosworth pada 2016, di mana ia mengklaim kalau Facebook cuma memiliki satu misi untuk menguntungkan perusahaan, yakni menghubungkan semua penggunanya menjadi komunitas besar.

(mdk/idc)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP