Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Facebook dan Twitter jadi ajang kesombongan

Facebook dan Twitter jadi ajang kesombongan facebook twitter. ©2012 Merdeka.com/debby

Merdeka.com - Jika sebelumnya telah diberitakan bahwa Facebook seakan menjadi Tuhan baru bagi masyarakat modern, kini jejaring sosial lainnya, Twitter, juga berpotensi sebagai ajang kesombongan bagi para penggunanya.

Hal ini didasari oleh tingginya intensitas penggunaan akun Twitter dan juga Facebook di seluruh dunia dengan bentuk status, posting twit, berbagi foto, dan lain sebagainya.

Jika diperhatikan, hampir seluruh pengguna Facebook dan Twitter sangat ketergantungan dan sulit untuk lepas dari jejaring sosial. Mungkin Anda memiliki seorang teman yang hampir setiap jam berganti status Facebook atau memosting twit. Bahkan saat bangun tidur pun, terkadang mereka berbagi foto lewat dua jejaring sosial ini dengan caption, 'baru bangun tidur nih'. Atau mengakses Facebook dan Twitter di manapun dia berada, baik di kelas, kantor, tempat bermain, mall, toilet, kendaraan, dan lain sebagainya. Kebanyakan dari mereka tidak tahan jika sehari saja tidak mengakses Facebook dan Twitter.

Dari buku yang disusun Nurudin berjudul 'Tuhan Baru Masyarakat Cyber di Era Digital', juga dijelaskan bahwa eksistensi yang ditunjukkan pengguna Facebook dan Twitter saat ini terlalu berlebihan. Secara tidak sadar, mereka akan menganggap hal tersebut adalah sesuatu yang keren, gaul, dan mengasyikkan.

Akan tetapi, sebuah teori yang diungkapkan Erick Qualman, dan dikutip dalam buku yang disusun Nurudin tersebut menyatakan bahwa fenomena itu disebut 'braggadocian behavior' (braggart berarti pembual atau penyombong).

Update status dan twit pada jejaring sosial 'seakan' mencitrakan penggunanya berdasarkan apa yang ditulis, apa yang diposting, dan apa yang ditampilkan. Padahal, itu semua belum tentu merupakan realitas di dunia nyata.

Apabila melihat fenomena di Indonesia, banyak pengguna Facebook dan Twitter melakukan pergantian status atau twit dengan sebuah hal yang mengandung pencitraan. Contohnya saja pada sebuah posting yang berkata, "Hari kelima puasa baru dapet 6 juz. Alhamdulillah, tapi masih kurang banyakkkkkk......" Posting seperti itulah yang disebut sebagai ajang pencitraan dan hal tersebut belum tentu benar. Bisa saja pengguna sengaja menulis demikian agar mendapat apresiasi dari pengguna lain.

Terlebih lagi, jika pengguna berbagi foto dengan menampilkan gambar makanan enak, lezat dan mahal, foto dengan uang menumpuk, serta tempat-tempat bagus yang bonafit. Di sinilah letak kesombongan yang dimaksudkan oleh teori tersebut.

Akan tetapi, hal ini tetap kembali pada individu masing-masing. Bagaimana Anda menyikapi fenomena tersebut, terlepas dari teori yang ada. Namun, yang perlu diingat adalah, jejaring sosial pada dasarnya bukan media yang diciptakan untuk digunakan sebagai ajang pamer dan kebohongan publik. (mdk/ega)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP