Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Facebook belum berikan hasil audit kebocoran data pengguna

Facebook belum berikan hasil audit kebocoran data pengguna Facebook. ©2014 Merdeka.com

Merdeka.com - Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara mengatakan, pihaknya belum menerima hasil audit yang dilakukan Facebook. Hasil audit tersebut terkait dengan kebocoran data 87 juta penggunanya di dunia, termasuk 1 juta pengguna di antaranya di Indonesia.

"Belum tahu saya," kata Rudiantara di Jakarta, Senin (16/4).

Hasil dari audit yang dilakukannya oleh Facebook, pernah dikatakan Public Policy Lead Ruben Hattari, belum diketahui kapan selesainya. Hal itu tergantung dari audit yang telah dilakukan oleh Facebook internasional.

"Ya, kita sih terus melakukan audit dan koordinasi dengan Facebook pusat dan kita selalu membuka communication channel dengan Pak Rudiantara. Untuk tanggal pastinya kapan, ya saya belum ada kepastian," terangnya di suatu kesempatan yang berbeda.

Sebelumnya, Kemkominfo sendiri, telah melayangkan sanksi administrasi bagi Facebook berupa sanksi teguran lisan dan tertulis berupa Surat Peringatan (SP).

Sejauh ini, pemerintah telah melayangkan SP kedua untuk Facebook, lantaran pemerintah masih menemukan adanya aplikasi yang serupa CA yakni CubeYou dan AgregateIQ. Facebook diwajibkan oleh pemerintah untuk menutup aplikasi kuis untuk pasar Indonesia dan menyerahkan hasil audit tentang kebocoran data pengguna.

Asal muasal kebocoran masif data Facebook ini diungkap oleh Christopher Wylie, mantan kepala riset Cambridge Analytica, pada koran Inggris, The Guardian, Maret 2018 lalu.

Menggunakan aplikasi survei kepribadian yang dikembangkan Global Science Research (GSR) milik peneliti Universitas Cambridge, Aleksandr Kogan, data pribadi puluhan juta pengguna Facebook berhasil dikumpulkan dengan kedok riset akademis.

Data itulah yang secara ilegal dijual pada Cambridge Analytica dan kemudian digunakan untuk mendesain iklan politik yang mampu mempengaruhi emosi pemilih. Konsultan politik ini bahkan menyebarkan isu, kabar palsu dan hoaks untuk mempengaruhi pilihan politik warga.

Induk perusahaan Cambridge Analytica yakni Strategic Communication Laboratories Group (SCL) sudah malang melintang mempengaruhi pemilihan di 40 negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Sebagaimana diketahui, berdasarkan siaran pers Facebook, Rabu (4/4), mereka mengakui bahwa terdapat 87 juta data yang dimungkinkan disalahgunakan oleh CA. Dari 87 juta data yang kebobolan, sebagian besar adalah pengguna Facebook dari Amerika Serikat atau sekitar 81,6 persen data disalahgunakan. Selain Amerika Serikat, ada beberapa negara termasuk Indonesia.

Indonesia masuk urutan ketiga data yang disalahgunakan. Sekitar 1,3 persen dari 87 juta. Di atas Indonesia, ada Filipina yang kemungkinan besar penyalahgunaan data pengguna dari negeri itu sekitar 1,4 persen. Selain ketiga negara itu di antaranya Inggris, Mexico, Kanada, India, Brazil, Vietnam, dan Australia. (mdk/ara)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP