Benarkah rata-rata pengguna Twitter itu pemalas?
Merdeka.com - Ada banyak karakter yang menjejali situs jejaring sosial, khususnya Twitter. Kira-kira seberapa peduli para tweeps terhadap account Twitter yang mereka follow atau ikuti?
Beberapa hari lalu, sebuah account Twitter seseorang dengan nama @RVP tiba-tiba menjadi terkenal dan mendapatkan banyak mention, retweet sampai dengan kebanjiran follower.
Ternyata, account milik seorang yang menggeluti pekerjaan di bidang IT dan konsultan telecom bernama Ravi Visvesvaraya Sharada Prasad tersebut mirip dengan nama singkatan seorang pesepakbola terkenal asal Belanda yang sekarang merumput untuk Manchester United, Robin van Persie (RVP).
Sontak setelah RVP berhasil mencetak hattrick dan mengantarkan Manchester United menjadi pemegang piala Liga Inggris untuk yang ke-20 kalinya, account Twitter Prasad kebanjiran pendatang karena mengira @RVP tersebut adalah milik Robin van Persie.
[Baca juga: Ketika Robin van Persie versi India kebanjiran rezeki]
Menjadi satu fenomena yang unik sekaligus menarik serta memunculkan satu pertanyaan seberapa peduli para tweep -sebutan pengguna Twitter dengan account yang mereka mention dan follow?
Twitter adalah salah satu jejaring sosial yang memiliki satu fitur untuk saling mention dan follow account seseorang tanpa harus mendapatkan persetujuan atau difollow back.
Oleh karenanya, sekarang ini tidak sedikit kasus 'salah alamat' terjadi karena banyak tweep yang secara sembarangan menuliskan twit dengan me-mention account seseorang tanpa mempedulikan kebenaran account tersebut.
Selain contoh yang dialami Prasad dan account miliknya tersebut, sudah kerap kali kasus serupa pernah terjadi. Menurut tulisan di sebuah blog bernama Famousblogger.net, ada kecenderungan bahwa para tweep lebih suka mem-follow dan mention account seseorang tanpa harus mengetahui latar belakang sampai kebenaran account tersebut.
Tidak sedikit di antara mereka hanya melihat topik yang berkembang, merasa tertarik dan ingin ikut meramaikan topik yang sedang hangat.
Seperti contohnya ada kasus yang baru-baru ini hangat yaitu penggunaan account Twitter dengan tagline dan nama seputar pencarian donasi untuk korban bom Boston yang ternyata palsu.
Hangatnya berita pengeboman di Boston dan munculnya account pencarian donasi untuk korban pengeboman tersebut, langsung diserbu sekaligus diikuti oleh banyak orang. Tidak sedikit yang juga langsung memberikan donasi.
Untung saja, tidak seberapa lama, account tersebut dinyatakan suspended dan tidak dapat diakses lagi, mungkin ditutup secara paksa oleh Twitter atau ditutup sendiri oleh sang pelaku.
Telegraph (02/2010) pernah menuliskan bahwa fenomena seperti kasus-kasus di atas memang tidak dapat dihindari karena sekali muncul satu topik baru yang hangat dan menarik perhatian dari banyak pihak, maka akan secara cepat tulisan pertama tersebut akan diikuti, mendapatkan retweet sampai dengan me-mention penulis pertama tersebut.
Mengutip dari tulisan di Nytimes (08/2009), Andrea Forte, seorang peneliti yang mempelajari kecenderungan para pelajar menggunakan layanan media sosial dalam kehidupan sehari-harinya, mengungkapkan bahwa banyak pengguna Twitter khususnya yang masih berusia muda tidak meneliti terlebih dahulu segala hal yang terjadi, baik itu pemilik account yang akan di-mention atau follow sampai dengan isu yang merebak.
Mereka lebih tertarik untuk ikut meramaikan dan mengekspresikan identitas diri. Dari pemikiran dan fenomena yang ada apakah benar pengguna jejaring sosial khususnya Twitter lebih mementingkan 'aksi' daripada harus berpikir terlebih dahulu? Dalam artian, apakah mereka lebih leluasa dan tertarik untuk mengikuti tren yang ada daripada mengetahui serta meneliti apa yang akan mereka twit-kan, mention dan follow?
Sumber:
Nytimes.com, Telegraph.com, Cblt.soton.ac.uk, Blog.twitter.com, En.wikipedia.org, Bmer.net, Ebusinessbook.nl, Gigaom.com, Famousbloggers.net, BBC.co.uk (mdk/das)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya