5 Alasan Apple kembali produksi smartphone ukuran mini
Merdeka.com - Setelah beberapa minggu rumor mencuat, kita sudah tak kaget lagi ketika iPhone keluaran terbaru, iPhone SE, dirilis oleh Apple. Generasi iPhone terbaru yang pada dasarnya adalah iPhone 6s dengan ukuran iPhone 5s ini, memang cukup menarik perhatian.
Namun pasca rilisnya perangkat baru Apple ini, masyarakat pun jadi berpikir, mengapa Apple memutuskan untuk kembali memproduksi iPhone mini? Apakah penjualan iPhone flagship berlayar lebar mereka tak lagi gemilang? Atau mereka ingin menambah pundi-pundi uang dengan melebarkan pasar? Hal tersebut terbukti gagal di iPhone 5c namun apa penyebab utamanya?
Dari berbagai sumber, berikut ulasan mengapa iPhone memutuskan untuk kembali merilis iPhone mini.
Pasar yang tertinggal
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comiPhone generasi ke enam memang baru rilis satu setengah tahun lalu, namun smartphone berukuran besar sudah beredar di pasaran selama bertahun-tahun. Hal ini bukan tanpa alasan. Menurut riset, seseorang rata-rata menonton YouTube di smartphone mereka selama 40 menit per hari. Hal ini dilirik oleh produsen smartphone, dan akhirnya memproduksi layar dengan ukuran lebar.
Dengan banyaknya smartphone berukuran besar, ada satu hal yang sulit untuk ditemukan: smartphone berukuran kecil, namun dengan performa layaknya flagship yang kini tak lagi diproduksi dalam ukuran kecil.
Banyak sekali orang yang sudah memiliki smartphone berukuran besar, dan merasa bahwa smartphone berukuran besar bukan sesuatu yang cocok untuknya. Namun jika dia kembali ke ukuran kecil, performanya tak sebaik ukuran besar. Mereka sebenarnya adalah segmen yang 'tertinggal' karena tak lagi dipenuhi kebutuhannya oleh produsen smartphone.
Tentu iPhone SE memberi 'angin segar' pada para pengguna iPhone 5 yang setia memakainya karena ukuran, dan memberi performa yang maksimal tanpa harus 'memperbesar' layar.
Terjangkau, tapi kualitas premium
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comSudah tak jadi rahasia umum bahwa Apple sudah melakukan ini sebelumnya, dengan merilis smartphone 'budget' iPhone 5c. Sebenarnya tujuan Apple melakukan ini adalah untuk mengamankan angka penjualan di negeri China, di tengah gempuran Android lokal yang berharga murah seperti Xiaomi dan Huawei, yang memang sedang naik daun.
Namun, angka penjualan mereka justru turun dibandingkan iPhone 5s, yang akhirnya menunjukkan bahwa pangsa pasar di China tak masalah membayar mahal asal membawa spek yang lebih 'premium.' Hal ini ditambah dengan rilisnya iPhone 6 dan 6s yang laris manis di Negeri Tirai Bambu tersebut.
Hal ini membuat Apple harus pikir-pikir strategi baru, yang akhirnya membuat iPhone SE lahir. Jika dibandingkan antara iPhone 5c dan iPhone SE, mereka sangat berbeda dari sisi prestisius. Hal ini dikemukakan oleh seorang kontributor riset teknologi dari Seeking Alpha, Mark Hibben.
"iPhone 5c dibungkus oleh eksterior plastik, yang merepresentasikan 'murah,'" ungkapnya. Di sisi lain, iPhone SE dilapisi case alumunium yang menyerupai model, warna, dan bentuk dari iPhone 'mahal.'
Harganya yang dibanderol seharga 5,2 jutaan, terbilang cukup murah dibandingkan seri iPhone 6 atau 6s. Meski harga ini masih di atas dari rata-rata harga Android, namun fitur, spek dan model-lah yang membuat konsumen tetap memilih Apple.
Diversifikasi smartphone
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comPenjualan iPhone 6 dan 6s memang cukup baik. Namun berdasarkan riset dari sebuah website analitik bernama Mixpanel, iPhone 5s adalah smartphone Apple paling populer kedua setelah iPhone 6, serta di atas iPhone 6s dan 6s Plus. Dari sini mungkin Apple menyadari bahwa pasar untuk smartphone yang kecil ternyata masih menjanjikan.
Namun di sisi lain, ternyata penjualan iPhone 5 dan 5s hanya 30 juta perangkat di tahun 2015. Terlihat banyak, namun itu hanya 13 persen dari jumlah keseluruhan 232 juta perangkat.
Dari sini Apple mungkin melihat pasar yang sangat potensial di sisi smartphone layar mungil, namun wajib disokong dengan spek yang mumpuni. Bisa kita simpulkan juga, Apple menjadi perusahaan 'mainstream' yang mengikuti arus 'melebarnya' layar smartphone, padahal segmen mereka masih jatuh cinta pada smartphone mungil mereka.
Dengan rumor rilisnya flagship iPhone 7 pada 2017 mendatang, munculnya iPhone SE adalah cara pintar untuk tetap eksis mengeluarkan line-up produk, namun melakukan 'diversifikasi' untuk memperluas pasar Apple yang sebelumnya selalu disuruh membeli smartphone flagship dengan layar lebar.
Penjualan dan Pengadaan material
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comPada penjualan iPhone 5c silam, Apple tertimpa masalah yang ternyata cukup mengganggu. Selain masalah penjualan yang telah dibahas di poin sebelumnya, ternyata Apple juga tertimpa masalah pengadaan material. iPhone 5c yang bermaterialkan plastik, mengharuskan Apple untuk 'memasok' material yang berbeda dari material-material yang ada sebelumnya.
Mitra Apple dalam memproduksi iPhone, Foxconn, pernah menyatakan bahwa seri iPhone 5c adalah seri yang paling sulit diproduksi. Namun hal ini tak lagi jadi masalah, karena munculnya iPhone SE yang sudah memiliki material yang sama dengan seri iPhone yang lain, dan tak bergantung dari material 'murah' seperti plastik, yang bisa kita lihat di iPhone 5c.
Pasar Apple memang 'haus' akan smartphone yang berukuran lebih kecil dan lebih murah, namun tak mau yang 'murahan.' Sehingga iPhone 5s, tak hanya menyelamatkan pengadaan bahan, namun juga sisi penjualan. Dengan ini, selain pembagian pasar yang makin lebar, profit industri yang dihasilkan perusahaan juga lebih tinggi, dengan tak merugi dari sisi pengadaan bahan juga.
Apple adalah Masterpiece dalam hal desain iPhone mungil
Rekonstruksi prajurit tni pembunuh kacab bank BUMN. ©2025 Merdeka.comiPhone generasi ke lima adalah perangkat terakhir Apple di era kepemimpinan Steve Jobs, sebelum beliau meninggal di 2011. Dan sudah bisa ditebak, generasi ke-enam iPhone menjadi jauh berbeda.
iPhone 5 banyak disebut sebagai revolusi iPhone dari segi desain maupun aspek dalaman. Namun desainlah yang membuat pecinta Apple terkesima.
Sedikit lebih besar dari iPhone 4s, iPhone 5 lebih ringan dan terasa lentur. Bagian belakangnya dilapisi alumunium, tak lagi kaca. Hal ini tentu membuat perangkat lebih tahan lama. Selain itu, layar 4inci mereka memiliki rasio 16:9, yang merupakan standar sinematik yang kini sudah dipakai hampir semua smartphone. Layarnya tidak menyentuh pinggiran dari smartphone, serta bagian ujung yang melingkar dan terlapisi aluminium. Namun dari semua keindahan desain tersebut, yang paling penting adalah iPhone 5 sangat pas di genggaman.
Hal ini tak lagi ada di generasi selanjutnya. Coba kita tengok iPhone 6. Jauh lebih besar dari iPhone 5, dan lebih tipis. Layarnya melebar menjadi 4,7inci dan pinggirannya jadi halus dan melingkar. Speknya jauh lebih mumpuni, namun desain tak bisa membohongi sebuah karya 'masterpiece.'
Oleh karena itu, iPhone SE menjembatani keduanya, dengan membuat smartphone yang memiliki spek tercanggih layaknya iPhone 6s, namun dengan desain layaknya Apple masih dikomandoi oleh Steve Jobs: layar 4inci dengan desain kokoh.
(mdk/idc)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya