Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Mengenal Disabilitas Intelektual Beserta Penyebabnya yang Jarang Diketahui

Mengenal Disabilitas Intelektual Beserta Penyebabnya yang Jarang Diketahui Anak Berkebutuhan Khusus dan Disabilitas Belajar Menghias Bekal Nusantara. ©2019 Liputan6.com/JohanTallo

Merdeka.com - Banyak masyarakat yang belum melek perihal isu disabilitas, terkadang bahkan disabilitas intelektual yang disamakan dengan disabilitas mental.

Pengetahuan dasar tentang disabilitas diperlukan untuk membuat kaum disabilitas mendapatkan hak dan akses ke kehidupan yang sebaik-baiknya. Dan ini penting diketahui semua orang di segala bidang dan lini.

Menurut Co-Founder Pijar Psikologi, Regis Machdy, disabilitas intelektual awalnya disebut sebagai retardasi mental, tapi diganti menjadi disabilitas intelektual karena istilah lama memiliki asosiasi negatif dilansir dari laman Liputan6.

Karena istilah mental lebih mengarah ke nuansa emosional dan memiliki konotasi negatif, maka istilah tersebut diganti menjadi disabilitas intelektual atau sering juga disebut intellectual and developmental disabilities.

Sedangkan menurut laman Special Olympics, disabilitas intelektual adalah istilah yang digunakan ketika seseorang memiliki keterbatasan tertentu dalam fungsi dan keterampilan kognitif, termasuk keterampilan komunikasi, sosial, dan perawatan diri.

Berikut merdeka.com merangkum selengkapnya tentang disabilitas intelektual beserta penyebabnya yang jarang diketahui:

Gejala Disabilitas Intelektual

Anak-anak dengan Disabilitas Intelektual memiliki kesulitan yang signifikan baik dalam fungsi intelektual (misalnya berkomunikasi, belajar, pemecahan masalah) dan perilaku adaptif (misalnya keterampilan sosial sehari-hari, rutinitaskebersihan).  

Disabilitas Intelektual bisa ringan atau lebih parah. Anak-anak dengan bentuk yang lebih parah biasanya membutuhkan lebih banyak dukungan - terutama di sekolah. 

Anak-anak dengan ID yang lebih ringan dapat memperoleh beberapa keterampilan mandiri, terutama di komunitas dengan pengajaran dan dukungan yang baik. Ada banyak program dan sumber daya yang tersedia untuk membantu anak-anak ini saat mereka tumbuh dewasa.

Berikut ciri-cirinya yang bisa dikenali:

  • kegagalan untuk memenuhi tonggak intelektual
  • duduk, merangkak, atau berjalan lebih lambat dari anak-anak lain
  • masalah belajar berbicara atau kesulitan berbicara dengan jelas
  • masalah memori
  • ketidakmampuan untuk memahami konsekuensi dari tindakan
  • ketidakmampuan untuk berpikir logis
  • perilaku kekanak-kanakan yang tidak sesuai dengan usia anak
  • kurangnya keingintahuan
  • kesulitan belajar
  • IQ di bawah 70
  • ketidakmampuan untuk menjalani kehidupan mandiri sepenuhnya karena tantangan dalam berkomunikasi, menjaga diri sendiri, atau berinteraksi dengan orang lain
  • Jika anak Anda memiliki ID, mereka mungkin mengalami beberapa masalah perilaku berikut:

  • agresi
  • ketergantungan
  • penarikan diri dari kegiatan sosial
  • perilaku mencari perhatian
  • depresi selama masa remaja dan remaja
  • kurangnya kontrol impuls
  • kepasifan
  • kecenderungan untuk melukai diri sendiri
  • sikap keras kepala
  • rendah diri
  • toleransi rendah untuk frustrasi
  • gangguan psikotik
  • kesulitan memperhatikan
  • Beberapa orang dengan ID mungkin juga memiliki karakteristik fisik tertentu. Ini bisa termasuk memiliki perawakan pendek atau kelainan wajah.

    Penyebab Disabilitas Intelektual

    Disabilitas Intelektual dikaitkan disebabkan oleh bawaan sejak lahir di antaranya yaitu masa postnatal (sesudah lahir), prenatal (sebelum lahir), perinatal (saat lahir).

    Masa Prenatal

    Pada masa prenatal atau saat bayi masih di dalam kandungan, bayi memiliki risiko menyandang disabilitas intelektual dengan penyebab tertentu.

    “Pada masa prenatal, penyebab disabilitas intelektual bisa bermacam-macam,” kata Regis Machdy.

    Penyebab-penyebab tersebut yakni gangguan kromosom, metabolisme, gangguan dalam pembentukan otak janin, dan lingkungan buruk selama masa kehamilan.

    “Lingkungan buruk selama masa kehamilan misalkan radikal bebas karena ibunya bekerja di tempat yang selalu terpapar radikal bebas, nah itu bisa memengaruhi perkembangan janin.” lanjutnya.

    Masa Perinatal

    Pada masa perinatal atau saat proses melahirkan ada beberapa penyebab lain yang menjadi alasan terjadinya disabilitas intelektual pada anak. Bisa jadi ada yang namanya anoxia atau kekurangan oksigen saat proses lahiran, entah karena ketubannya pecah atau mandet dalam proses pembukaan dan lain-lain.

    “Banyak faktor saat melahirkan, anak tidak mendapat suplai oksigen yang cukup itu masa kritis dan bisa memengaruhi itelektualitasnya,” kata Regis.

    Ia menambahkan, sebenarnya anoxia juga bisa terjadi saat dalam kandungan, tapi risiko lebih tinggi ada pada saat lahiran karena lahiran adalah proses perpindahan.

    Selain anoxia, berat badan kurang pada bayi juga berpengaruh terhadap kejadian disabilitas intelektual. Ketika bayi lahir prematur maka risiko komplikasi tinggi, katanya.

    Penyebab lainnya adalah infeksi yang dimiliki ibu. Infeksi tersebut kemudian ditularkan kepada anak pada saat lahiran. Misalnya infeksi sifilis atau herpes.

    “Itu kan penyakit di kelamin, ketika bayi keluar melalui vagina ibu kemudian tertular ke anak, efeknya bisa ke mana-mana,” tuturnya.

    Masa Postnatal

    Pada masa postnatal atau setelah melahirkan, penyebab disabilitas intelektual yang dapat terjadi adalah infeksi, malnutrisi, toksin, dan lingkungan yang kurang menstimulasi anak.

    “Ada cukup banyak kasus yang saya dengar ketika bayi demam pendengarannya hilang, penglihatannya hilang, itu karena ada infeksi yang kita enggak tahu infeksi apa, macam-macam banget penyebabnya,” ujar Regis dalam kuliah umum yang diunggah di YouTube Pribadinya (Regis Machdy), dikutip Selasa (20/4/2021) melansir dari Liputan6.

    “Namanya bayi saat berkembang sangat ringkih jadi yang diserang itu bisa saja saraf tertentu,” tambahnya.

    Serangan infeksi pada saraf tersebut dapat menyebabkan hilangnya fungsi-fungsi tertentu seperti penglihatan, pendengaran, atau bahkan kapasitas intelektual yang akhirnya menyebabkan disabilitas intelektual.

    Selain itu, malnutrisi juga sangat memengaruhi. Toksin atau zat-zat berbahaya juga demikian, kata Regis.

    “Lingkungannya tidak pernah menstimulasi anak, bayinya diabaikan oleh ibu, tidak pernah diajak interaksi sampai umur 2 tahun enggak pernah diajak ngobrol, enggak pernah diberi mainan untuk pegang-pegang ya dia tidak akan tahu dunia, enggak akan punya konsep.”

    Menurut Regis, nature genetik juga menjadi faktor yang kuat, faktor lingkungan yang cukup kuat menjadi titik rentan di masa sebelum, saat, dan setelah melahirkan. 

    (mdk/amd)
    Geser ke atas Berita Selanjutnya

    Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
    lihat isinya

    Buka FYP