Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Didirikan Mantan Teroris, Ini Kisah di Balik Pesantren Al Hidayah Deli Serdang

Didirikan Mantan Teroris, Ini Kisah di Balik Pesantren Al Hidayah Deli Serdang Didirikan Mantan Teroris, Ini Kisah di Balik Pesantren Al Hidayah Deli Serdang. merdeka.com ©2020 Merdeka.com

Merdeka.com - Di Sumatra Utara, tepatnya di Jalan Sawit Rejo, Kutalimbaru, Kabupaten Deli Serdang, berdiri dengan kokoh sebuah bangunan pondok pesantren bernama Al Hidayah. Jika dilihat sekilas, pondok pesantren ini tampak biasa saja. Tak jauh beda dengan pondok pesantren kebanyakan. Namun siapa sangka, pondok pesantren ini ternyata didirikan oleh mantan napi teroris.

Khairul Ghazali alias Abu Yasin adalah salah satu mantan teroris dari tiga belas teroris lainnya yang pernah melakukan aksi perampokan di salah satu bank di Kota Medan pada tahun 2010 lalu dan menewaskan satu orang Brimob.

Sosok yang akrab disapa Buya Ghazali ini, kemudian mendekam di balik jeruji besi selama lima tahun. Ia kemudian bertaubat dan menyesal atas apa yang dilakukannya, yang mengantarkan Ia pada mimpinya untuk membangun sebuah pondok pesantren bagi anak-anak mantan teroris.

Penuh perjuangan, berikut kisah jatuh bangun Buya Ghazali dalam mendirikan Pondok Pesantren Al Hidayah selengkapnya.

Berawal dari Kegelisahan Nasib Keluarganya

didirikan mantan teroris ini kisah di balik pesantren al hidayah deli serdang

 ©2020 Merdeka.com

Melansir dari kovermagz, selama mendekam di jeruji besi, Buya Ghazali lebih banyak menghabiskan waktu untuk merenung. Ia sering kali dibuat gusar saat memikirkan nasibnya dan keluarga setelah masa tahanannya selesai.

Ia tak kuasa menahan kegelisahan, setiap kali membayangkan stigma buruk dari masyarakat yang akan Ia dan keluarganya dapatkan. Menjalani kehidupan berstatus mantan narapidana terorisme dengan berbagai momoknya sering menghantui Buya Ghazali. Mulai dari stigma mengerikan dari masyarakat, ekonomi yang amburadul, belum lagi nasib anak-anaknya yang pasti kena imbasnya.

Buya Ghazali benar-benar menggunakan waktu lima tahun di penjaranya untuk banyak belajar. Ia lebih rutin membaca satu per satu buku pemahaman agama dan pendidikan kewarganegaraan yang jauh dari kata radikal. Ia pun mulai berubah.

Dari situ lah terlintas dibenaknya untuk mendirikan sebuah sekolah khusus anak-anak mantan teroris. Tujuannya, tentu deradikalisasi. Tapi lebih dari itu, Ia tidak ingin anak-anak mantan pelaku terorisme mengalami nasib malang akibat perbuatan orang tuanya. Ia ingin anak-anak mantan teroris tetap bisa bersekolah dan diterima masyarakat.

Mendirikan Pesantren Didampingi Sang Istri

didirikan mantan teroris ini kisah di balik pesantren al hidayah deli serdang

kovermagz.com ©2020 Merdeka.com

Idenya ini Ia coba sampaikan ke pihak BNPT pada waktu itu. Bak gayung bersambut, pihak BNPT justru mendukung mimpi Buya Gazhali membuat sekolah untuk anak-anak mantan teroris.Setelah bebas di tahun 2015, Buya Ghazali dibantu oleh istrinya mulai mendirikan sekolah impiannya, yaitu pondok pesantren yang berbasis ilmu agama Islam. Awalnya pesantren yang Ia dirikan pada 11 Juni 2015 ini Ia beri nama Darusy Syifa, namun pada 7 September 2016 berubah menjadi Pondok Pesantren Al Hidayah. Di mana pembangunannya bersamaan dengan Masjid Al Hidayah, yang dibangun oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) Komjen. Pol. Drs. Suhardi Alius.Pesantren Al Hidayah ini hanya mampu menampung 25 santri, karena sampai saat ini masih terbatas sarana dan prasarana. Anak-anak yang belajar di sini tidak dibebani biaya, alias gratis. Anak-anak mantan teroris yang bersekolah di sini, kebanyakan adalah binaan dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Jatuh Bangun dalam Mendirikan Pesantren Anak Teroris

Perjalanan Buya Ghazali dalam mendirikan pesantren ini bukan tanpa rintangan. Jatuh bangun Ia lakoni, mulai dari mendapatkan legalitas izin pembangunan sekolah yang dirasa menyita waktu, keterlibatan masyarakat agar turut aktif, mencari donatur, dan relawan pengajar. Bahkan, Ia juga sempat mendapatkan penolakan dari masyarakat yang ‘kekeuh’ menolak pendirian pondok pesantren ini karena takut dijadikan sarang kelahiran anak teroris yang baru.

Kondisi Anak Diawal Masuk Pesantren Jadi Tantangan Tersendiri

Kondisi anak-anak santri di pesantren ini juga tak kalah jadi tantangan tersendiri bagi Buya Ghazali dan pengajar. Tiga bulan pertama masuk pesantren, kebanyakan dari anak-anak ini sudah memperlihatkan bibit-bibit radikalisme. Mereka tidak suka setiap kali bertemu aparat kepolisian. Kebencian terlihat jelas dari raut wajah para santri ini. Bahkan di antara mereka ada yang sudah pandai merakit bom.Namun setelah dibina, kebencian itu berubah dengan rasa nasionalisme yang besar, mencintai negara Indonesia. Bahkan sebagian dari mereka bercita-cita menjadi polisi atau tentara dan melindungi negara.

Para Santri Dibekali Ilmu dari Kurikulum Pendidikan Nasional dan Deradikalisasi Islam

Pesantren Al Hidayah ini berpedoman pada kurikulum pendidikan nasional dan Kementerian agama Republik Indonesia. Semua santri yang tamat mendapatkan ijazah dari Kementerian Pendidikan. Relawan yang mengajar di sini berjumlah 7 orang dari berbagai kalangan dengan pendidikan yang berkualitas.Selain kurikulum pendidikan nasional, di sini para santri akan diberi materi khusus deradikalisasi Islam. Ini lah kunci agar para santri tidak mengikuti jejak para orang tua mereka, menjadi teroris. Para santri diajarkan dalam suasana kelas yang tertib dan nyaman.

(mdk/far)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP