Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Terobsesi punya tubuh berotot? Itu gejala Bigorexia!

Terobsesi punya tubuh berotot? Itu gejala Bigorexia! ilustrasi pria olahraga. ©2015 Merdeka.com/shutterstock/holbox

Merdeka.com - Bukan cuma wanita yang terobsesi mendapatkan lekuk tubuh sempurna, pria juga demikian. Baru-baru ini, ada kasus memprihatinkan yang menimpa seorang pemuda bernama Oli Loyne.

Dia baru berusia 20 tahun saat meninggal karena serangan jantung. Dia sempat pulih dari serangan jantung dan stroke keduanya pada usia 19 tahun, tetapi kemudian serangan ketiga berhasil membunuhnya.

Oli diketahui mengonsumsi steroid dan melakukan latihan beban secara berlebihan untuk menjadi berotot. Dokter pun mendiagnosisnya dengan kelainan yang disebut Bigorexia. Gangguan ini ditandai dengan keinginan berlebihan untuk mendapatkan tubuh berotot.

Bigorexia dianggap sebagai kebalikan dari anoreksia. Ketika penderita anoreksia berpikir mereka terlalu gemuk - padahal tubuh mereka sudah terlalu kurus, penderita bigorexia justru berpikir bahwa tubuh mereka terlalu kecil dan lemah, meski pada kenyataannya mereka sudah berotot.

Sebagaimana dilansir Mail Online (20/9), bigorexia merupakan gangguan kecemasan yang dapat menyebabkan depresi dan bunuh diri. Para ahli mengatakan bahwa bigorexia bisa mempengaruhi pria dan wanita. Kadang-kadang kondisi ini bisa membuat seseorang merasa sangat tertekan dan putus asa.

Pengalaman hidup juga dapat menjadi faktor risiko dari bigorexia. Mereka yang menderita bigorexia kemungkinan pernah dilecehkan atau di-bully ketika masih remaja.

(mdk/des)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP