Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Studi Terbaru: Perpaduan Vaksin AstraZeneca & Pfizer Ciptakan Kekebalan Lebih Tinggi

Studi Terbaru: Perpaduan Vaksin AstraZeneca & Pfizer Ciptakan Kekebalan Lebih Tinggi Vaksin Covid-19 buatan Pfizer. ©REUTERS/Dado Ruvic

Merdeka.com - Program vaksinasi sebagai bentuk penanggulangan virus COVID-19 masih terus bergulir. Namun meski sudah cukup banyak masyarakat yang telah selesai mendapatkan 2 dosis vaksin sebagaimana mestinya, penelitian dan studi tentang kombinasi dua jenis vaksin berbeda pun masih dilakukan. Hal ini tentu akan berguna untuk mencapai hasil temuan terbaik.

Seperti dilansir dari liputan6.com, dimana baru-baru ini, hasil studi dari Oxford University menyatakan bahwa mengombinasikan vaksin AstraZeneca dengan Pfizer dapat meningkatkan kekebalan tubuh yang lebih tinggi terhadap COVID-19.

"Hasil menunjukkan kombinasi antara vaksin AstraZeneca dan Pfizer yang diberikan empat minggu setelah dosis pertama berhasil meningkatkan kekebalan tubuh," ujar Peneliti Utama, Profesor Matthew Snape, dikutip Pharmaceutical Technology pada Jumat, 20 Agustus 2021.

Sementara itu di Korea Selatan, hasil studi lanjutan menunjukkan kombinasi antara vaksin AstraZeneca dan Pfizer dapat meningkatkan antibodi enam kali lebih tinggi daripada dua kali suntikan AstraZeneca.

Seseorang yang mendapatkan kombinasi vaksin AstraZeneca dan Pfizer terbukti memiliki respons sel Limfosit T yang lebih tinggi. Sel T merupakan salah satu jenis sel darah putih yang mampu mengidentifikasi patogen tertentu. Di antara sel T, terdapat sel T memori yang mampu bertahan dalam tubuh. Ada kemungkinan sel T tersebut bisa bertahan seumur hidup. Sehingga dapat membuat seseorang kebal terhadap infeksi untuk jangka waktu panjang.

Namun meski sudah ada penelitian yang membuktikan bahwa kombinasi antara dua jenis vaksin berbeda berpotensi munculkan kekebalan lebih tinggi, sayangnya hal tersebut belum berlaku di Indonesia. Hal ini mengacu pada Keputusan Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Nomor HK.02.02/4/1/2021, tentang pemberian vaksin dosis pertama dan dosis kedua harus dengan jenis vaksin yang sama.

Di sisi lain, Arab Saudi justru memastikan bahwa menggabungkan dua jenis vaksin COVID-19 yang berbeda aman, asalkan telah disetujui Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Untuk itu, Dr Mohamed al-Abdali, Juru Bicara Kementerian Kesehatan Arab Saudi, pada Rabu, 14 Juli 2021 mengatakan, prosedur tersebut telah disetujui WHO di beberapa negara.

"Kami mengonfirmasi keamanan pencampuran vaksin yang disetujui Kerajaan, berdasarkan (masukan dari) penelitian internasional dan komite ilmiah khusus, karena prosedur ini disetujui WHO dan sejumlah negara di dunia," kicau Abdali seperti dikutip dari situs Al Arabiya. Ada pun empat vaksin yang disetujui penggunaannya di Arab Saudi yakni: Pfizer, AstraZeneca, Johnson and Johnson dan Moderna.

Liputan6.com/Diviya Agatha (mdk/ttm)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP