Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Penelitian ungkap jenis protein mampu tunjukkan gangguan bipolar

Penelitian ungkap jenis protein mampu tunjukkan gangguan bipolar ilustrasi bipolar disorder. ©www.youtube.com/Dominique Dejean

Merdeka.com - Gangguan bipolar bisa menunjukkan dirinya dalam banyak cara dan mencuri perhatian medis karena seringkali menunjukkan gejala yang berbeda-beda. Karena alasan ini pulalah, gangguan bipolar seringkali mengalami salah diagnosis yang dianggap sebagai depresi. Namun, sebuah temuan penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti mayo klinik menunjukkan satu langkah lebih dekat untuk mempermudah paramedis untuk mendiagnosis gangguan bipolar ini.

Melansir dari medicaldaily.com, tim peneliti dari mayo klinik menemukan serangkaian protein yang bisa menjadi penanda diagnostik untuk gangguan bipolar, dan jika penemuan seri dapat divalidasi melalui replika, sebuah spidol akan membantu psikiater dalam mendiagnosis gangguan mood.

Psikiater saat ini masih bergantung pada gejala yang diamati dan penilaian pasien berdasarkan wawancara untuk mendiagnosis gangguan ini dengan benar. Kurangnya penanda biologis untuk gangguan mood bisa saja akan didiagnosis sebagai gangguan kondisi medis lain seperti kanker, atau serangan jantung. Membedakan gangguan mood sangat penting karena perawatan dan pengobatan antara satu pasien bisa cocok atau bahkan berbahaya jika terjadi salah diagnosis.

Studi yang dilakukan oleh Mayo Klinik menganalisis 272 protein yang berbeda yang didapat dari 288 sampel darah pasien. Para pasien yang diikutkan dalam penelitian tersebut terdiri dari 46 pasien depresi bipolar I, 49 pasien depresi bipolar II dan 52 pasien depresi unipolar. Untuk membandingkan hasil, para peneliti juga mengikutsertakan 141 orang normal tanpa gangguan mood apapun.

Hasilnya, mereka menemukan sekitar 73 jenis protein yang berbeda di antara kelompok-kelompok peserta tersebut. Secara signifikan mereka menemukan enam jenis protein yang berbeda antara pasien depresi bipolar I dengan pasien normal.

Menurut mereka ini adalah penelitian pertama yang dilakukan untuk membedakan gangguan mood berdasarkan pada jenis protein dalam tubuh seseorang. Para peneliti berharap bisa melakukan uji coba pada sampel yang lebih besar untuk menindaklanjuti temuan mengenai enam jenis protein yang berbeda pad pasien depresi bipolar I tersebut.

(mdk/SRA)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP