Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Parasetamol, obat yang bikin sakit?

Parasetamol, obat yang bikin sakit? Ilustrasi Parasetamol. ©2015 Merdeka.com/shutterstock/emilie zhang

Merdeka.com - Parasetamol merupakan salah satu obat penghilang rasa sakit yang paling sering digunakan di dunia. Ini sering dipakai untuk mengatasi sakit kepala, sakit gigi dan masalah kesehatan lainnya. Terkait dengan beberapa efek samping yang tidak diinginkan dari obat penghilang rasa sakit ini, Dr. Emmert Roberts dan timnya dari Rumah Sakit Maudsley di London telah meneliti dampak Parasetamol terhadap risiko kerusakan organ internal dengan lebih rinci.

Efek samping yang fatal

Dr. Emmert Roberts dan timnya telah menganalisis delapan studi yang membahas risiko parasetamol. Secara khusus, para peneliti tertarik pada efek samping Parasetamol yang dapat meningkatkan risiko serangan jantung, stroke, tekanan darah tinggi, pendarahan di saluran pencernaan dan ginjal.

Peneliti menemukan bahwa pasien yang menggunakan Parasetamol secara teratur selama lebih dari satu tahun berisiko lebih tinggi - sekitar 20 sampai 70 persen - mengidap penyakit kardiovaskular seperti stroke atau serangan jantung. Juga, risiko kerusakan saluran pencernaan, khususnya pendarahan internal yang berkisar antara 10 sampai 50 persen. Selain itu, mereka juga berisiko mengembangkan kerusakan ginjal sampai dua kali lipat.

Semakin besar dosis, semakin besar risiko kerusakan

Semakin banyak parasetamol yang diambil, semakin besar kemungkinan komplikasi yang terjadi. Salah satu studi bahkan sampai pada kesimpulan bahwa dosis kecil parasetamol dari waktu ke waktu dapat meningkatkan risiko kematian.

Meskipun para peneliti kemudian mengakui kelemahan analisis mereka - misalnya, angka studi kecil - mereka percaya bahwa efek samping dari parasetamol lebih tinggi dari yang diharapkan.

"Parasetamol memang masih lebih aman daripada NSAID (seperti aspirin, ibuprofen dan naproxen), tetapi itu tetap memiliki potensi efek samping yang mengganggu," kata Profesor Philip Conaghan dari Leeds Institute of Rheumatic and Musculoskeletal Medicine kepada NetDoktor. (mdk/des)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP