Berbuat baik membuatmu lebih sehat dan panjang umur
Merdeka.com - Dalam beberapa tahun terakhir ini, para peneliti ingin tahu tentang dampak berbuat kebaikan pada tubuh manusia. Para ilmuwan ingin memahami seberapa jauh altruisme (keinginan untuk melakukan perbuatan baik) memengaruhi kesehatan, bahkan umur kita.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang memberikan waktu luangnya untuk menjadi sukarelawan, membantu di dapur umum untuk tunawisma, membersihkan sampah, membantu orang-orang lanjut usia ke toko kelontong, atau membantu tetangga sebelah, membersihkan tempat penampungan hewan terlantar, menanam pohon untuk penghijauan dan lain sebagainya.
Ketika kita berbuat baik, penelitian menunjukkan, kita akan merasa nyaman dan stres berkurang. Ini disebut pengaruh psikologis. Lalau, apa efek berbuat baik terhadap fisiologi atau tubuh fisik kita? Apakah berbuat baik juga memengaruhi panjang atau pendeknya umur kita juga?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi fokus 50 studi ilmiah yang didanai The Institute for Research on Unlimited Love, pimpinan Stephen G. Post, PhD, seorang profesor bioetika di Case Western Reserve University School of Medicine.
"Ada banyak penelitian yang membuktikan bahwa menerima kemurahan hati dan belas kasih, berefek positif pada kesehatan dan kesejahteraan si penerima. Dan manfaat dari kebaikan itu akan dikembalikan lagi ke si pemberi," kata Post.
Dalam sebuah makalah yang diterbitkan awal tahun ini, Post menjelaskan mengenai dasar-dasar biologis dari stres dan bagaimana altruisme dapat menjadi penawarnya.
Koneksi ini ditemukan secara tidak sengaja pada tahun 1956, ketika tim peneliti Cornell University mulai mengamati 427 wanita menikah dengan anak-anak mereka. Peneliti beranggapan bahwa ibu rumah tangga dengan banyak anak memiliki tingkat stres yang lebih besar dan meninggal dunia lebih awal dari wanita dengan jumlah anak yang lebih sedikit.
"Anehnya, peneliti menemukan bahwa jumlah anak-anak, pendidikan, kelas sosial dan status pekerjaan tidak mempengaruhi panjang atau pendeknya umur," tulis Post. Setelah mengamati para wanita ini selama 30 tahun, para peneliti menemukan bahwa 52 persen dari mereka yang tidak ambil bagian dalam pekerjaan sukarela, menderita berbagai penyakit berat. Sedangkan 36 persen yang melakukan kegiatan sebagai relawan sosial, tidak mengalami hal yang sama.
Dua penelitian besar lain menemukan bahwa orang tua yang mengajukan diri untuk diterima bekerja sebagai relawan, hidup lebih lama dibanding nonrelawan. Penelitian besar lain lagi menemukan, terjadi penurunan angka kematian dini sebesar 44 persen di kalangan orang-orang yang banyak melakukan pekerjaan sosial. Efek ini empat kali lebih besar daripada efek berolahraga sebanyak empat kali seminggu, jelas Post.
Ada juga studi lain yang melibatkan para siswa sebagai relawan. Mereka diminta untuk menonton film mengenai karya Ibu Teresa membantu masyarakat miskin di Calcutta. Peneliti menemukan, ada peningkatan antibodi yang signifikan selama dan setelah para siswa ini menonton. Efek peningkatan antibodi masih berlangsung sejam setelah film usai. (mdk/feb)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya