Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Tak Setuju Ridwan Kamil, PPP Nilai Kampanye Baliho Efektif Buat di Pedesaan

Tak Setuju Ridwan Kamil, PPP Nilai Kampanye Baliho Efektif Buat di Pedesaan Ridwan Kamil Luncurkan Sentra Vaksinasi Silih Tulungan. ©2021 Merdeka.com

Merdeka.com - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (RK) menilai, kampanye lewat baliho sudah ketinggalan zaman. Ketua DPP PPP Achmad Baidowi menilai, baliho masih punya pengaruh untuk strategi pemenangan kampanye.

"Itu pendapat ya dan hak RK. Baliho tetap saja punya pengaruh," kata pria akrab disapa Awiek ini lewat pesan tertulis, Selasa (19/10).

Menurutnya, penggunaan baliho masih efektif di daerah pedalaman. Sebab, di daerah tersebut belum terjangkau akses teknologi informasi (IT).

"Khususnya di kawasan pedalaman atau pedesaan yang infrastruktur IT belum maksimal," kata anggota DPR RI ini.

Meski begitu, keefektifan kampanye lewat baliho atau medsos mesti diuji saat pemilu berlangsung. Partai Ka'bah sendiri masih menggunakan baliho dan medsos untuk kampanye.

"Untuk membuktikannya memang harus diuji pada pemilu. Dua-duanya kita pakai," kata Sekretaris Fraksi PPP DPR ini.

Gubernur Jawa Barat (Jabar) M Ridwan Kamil atau Kang Emil menilai, kampanye lewat baliho sudah ketinggalan zaman. Saat ini, masyarakat lebih melek teknologi dan mengkonsumsi segala macam informasi lewat internet termasuk sosial media.

Hal itu dikemukakan Kang Emil menjadi narasumber Musyawarah Nasional Alim Ulama PPP di Pondok Pesantren Fadhlul Fadhlan, Semarang.

"Jadi generasi Z ini tidak mengonsumsi PPP lewat baliho, tapi lewat handphone. Jadi kalau kader PPP masih 'main' baliho itu ketinggalan zaman dan baliho itu mahal. Kalau ingin PPP bangkit investasikan ke cara generasi baru. Ubah cara dakwah politiknya, jauhi cara konvensional," kata dia dilansir Antara, Senin (18/10).

Kang Emil, begitu dia disapa, menyarankan agar para kader Partai Persatuan Pembangunan (PPP) harus inovatif dalam berkampanye seperti berkampanye sesuai dengan kondisi zaman saat ini.

"Cara menarik simpati masyarakat tak bisa lagi pakai cara konvensional. Saya itu mengamati dari dulu tahun 1955 sampai pemilu kemarin. Kenapa persentase partai Islam tak signifikan padahal umat Islam 90 persen tapi ketika nyoblos enggak ke partai muslim," kata Kang Emil.

(mdk/rnd)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP