Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Survei LSI Denny JA: Elektabilitas PDIP 24,8, Gerindra 13,1% dan Golkar 11,3%

Survei LSI Denny JA: Elektabilitas PDIP 24,8, Gerindra 13,1% dan Golkar 11,3% Nomor urut parpol peserta Pemilu 2019. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Lingkaran Survei Indonesia Denny JA merilis elektabilitas partai jelang Pemilihan Umum 2019 mendatang. Hasilnya, jika pemilu dilaksanakan hari ini, PDI Perjuangan unggul dengan perolehan suara 24,8 persen disusul Partai Gerindra 13,1 persen.

Sedangkan Partai Golkar, hanya mampu bertengger di urutan ketiga dengan peroleh suara 11,3 persen. Tiga alasan menjadi faktor partai Orde Baru itu tidak bisa menembus posisi dua besar.

"Warisan kasus mantan Ketua Umum Setya Novanto. Lalu ada kasus baru yang melibatkan internal Golkar juga (dugaan korupsi oleh Idrus Marham) sehingga menyebabkan elektabilitas Golkar di bawah 15 persen," kata Peneliti LSI Denny JA, Adjie Alfaraby di Graha Rajawali, Rawamangun, Jakarta Timur, Rabu (12/9).

Faktor kedua, Golkar tidak mengalami coattails effect saat pencalonan presiden. Sebab, dalam Pilpres 2019 Golkar tidak memiliki tokoh ataupun kader yang diusung dalam Pilpres nanti dan justru mengusung Joko Widodo sebagai calon petahana. Sikap politik Golkar tersebut, menurut Adjie, tidak cukup berpengaruh meningkatkan elektabilitas partai.

Sebab biasanya, partai politik mengusung capres sendiri justru lebih mampu meningkatnya elektabilitas. Seperti yang terjadi di Gerindra, sebagai pengusung Prabowo Subianto - Sandiaga Uno.

"Dalam koalisi pendukung Jokowi-Ma'ruf, PDIP adalah partai paling kuat asosiasinya. Dalam koalisi Prabowo-Sandi Gerindra adalah partai yang kuat asosiasinya," ujarnya.

Terakhir, kepemimpinan Golkar dinilai tidak cukup kuat menggerakkan mesin politik mereka. Adjie menyebut, peran pemimpin partai sangat krusial untuk memajukan partai dan meningkatkan elektabilitas jelang Pemilu nanti.

Adjie membandingkan, kepemimpinan Golkar dengan PDIP dan Gerindra. Untuk PDIP dan Gerindra, berdasarkan hasil penelitiannya, dua partai itu memiliki sikap kepemimpinan kuat seperti Megawati di PDIP, Prabowo Subianto di Gerindra. Hasil dari kepemimpinan kuat itu, kata Adjie, tercermin dari minimnya konflik internal partai.

"Dengan pemimpin yang kuat kedua partai tersebut mampu memaksimalkan potensi di dalam tubuh partai politik. Kedua partai ini mampu fokus pada isu-isu populis," jelas dia.

Survei dilakukan sejak tanggal 12-19 Agustus 2018 dengan menggunakan metode multistage random sampling yang melibatkan 1.200 responden dan margin of error 2,9 persen.

Berikut perolehan suara lengkap partai peserta Pemilu 2019:

1. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) 24,8 persen

2. Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) 13,1 persen

3. Partai Golkar 11,3 persen

4. Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) 6,7 persen

5. Partai Demokrat 5,2 persen

6. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 3,9 persen

7. Partai Persatuan Pembangunan (PPP) 3,2 persen

8. Partai Nasional Demokrat (NasDem) 2,2 persen

9. Partai Persatuan Indonesia (Perindo) 1,7 persen

10. Partai Amanat Nasional (PAN) 1,4 persen

11. Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) 0,6 persen

12. Partai Bulan Bintang (PBB) 0,2 persen

13. Partai Solidaritas Indonesia (PSI) 0,2 persen

14. Partai Berkarya 0,1 persen

15. Partai Gerakan Perubahan Indonesia (Garuda) 0,1 persen

16. Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) 0,1 persen

17. Undecided voter 25,2 persen

(mdk/lia)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP