Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Soal pidato Indonesia bubar, Prabowo tak ingin kekayaan RI dibawa kabur

Soal pidato Indonesia bubar, Prabowo tak ingin kekayaan RI dibawa kabur Prabowo Subianto . ©2014 Merdeka.com/Dwi Narwoko

Merdeka.com - Pidato Prabowo Subianto soal Indonesia bubar tahun 2030 menjadi perbincangan. Prabowo mendapat kajian tersebut dari buku yang dibuat ahli intelijen strategis asal luar negeri.

Gerindra sendiri dinilai partai lain kerap menyuarakan narasi anti asing, tapi malah merujuk kajian dari luar negeri. Wasekjen Gerindra Andre Rosiade menegaskan, partainya bukanlah anti asing.

"Pak Prabowo kan sudah menyampaikan kemarin. Bahwa beliau tidak anti asing. Tapi kerjasama dengan asing harus menguntungkan bangsa Indonesia bukan merugikan bangsa Indonesia. Jangan seperti kekayaan alam kita dibawa kabur ke luar negeri," kata Andre lewat pesan kepada merdeka.com, Jumat (23/3).

Berita Prabowo Subianto lainnya, bisa dibaca di Liputan6.com

Andre juga menegaskan, pidato tersebut tak berkaitan dengan politik untuk nyapres di 2019. Pidato itu murni keprihatinan mantan Danjen Kopassus itu kepada nasib bangsa Indonesia.

"Ini kan pidato lama Pak Prabowo di acara Temu Kader di SICC bulan Oktober 2017. Dan pidato itu kan bentuk keprihatinan atas nasib bangsa saat ini," ujar Andre.

Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Rian Ernest menilai, keputusan Partai Gerindra menggunakan informasi dari asing untuk di sampaikan di mimbar terbuka, secara tidak langsung mengikis kredibilitas.

Menurutnya, setelah sebelumnya gagal dalam narasi utang, kali ini melalui Ketua Umum dan Wakil Ketua Umumnya, Gerindra mengalihkan wacananya pada informasi yang diperoleh dari negara asing.

Padahal, lanjut Ernest, Gerindra dikenal sering menyuarakan narasi anti-asing. "Tidak masuk akal bila Gerindra mengakui validitas dan kredibilitas laporan negara asing tersebut. Alih-alih ingin membakar semangat kadernya, penggunaan informasi asing di muka mimbar ini justru dapat membuat publik bertanya-tanya tentang konsistensi Gerindra terhadap wacana 'anti-asing' yang sering mereka suarakan," sindir Ernest, Rabu (21/3).

Apalagi, kata dia, Prabowo Subianto yang ingin maju pada pilpres mendatang. Gerindra, tegas Ernest, ingin menggunakan strategi politik seolah-olah dihadapkan pada musuh yang sebenarnya tidak ada.

"Langkah Gerindra dengan narasi informasi yang diperoleh dari negara asing dinilai kurang tepat. Karena musuh terbesar kita hari ini adalah politisi yang menghalalkan segala cara termasuk korupsi dan sentimen SARA," Ernest menegaskan kembali.

(mdk/rnd)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP