Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Siapa Menteri Berapor Merah di Tengah Isu Reshuffle?

Siapa Menteri Berapor Merah di Tengah Isu Reshuffle? Jokowi Pimpin Rapat Kabinet Paripurna Perdana di Istana. ©2019 Liputan6.com/Angga Yuniar

Merdeka.com - Ketua Relawan Jokowi Mania (Joman) Emmanuel Ebenezer meyakini Presiden Jokowi bakal segera melakukan reshuffle kabinet dalam waktu dekat. Tak tanggung-tanggung, menurut dia, Jokowi akan mengganti banyak menteri.

Menanggapi isu itu, Pengamat Komunikasi Politik Kunto Adi Wibowo mengatakan, ada beberapa menteri yang mendapar rapor merah dalam kabinet Indonesia Maju. Salah satunya, yaitu Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim.

Menurut dia, Nadeim memunculkan pro dan kontra terkait Pembelajaran Tatap Muka Terbatas(PTM) hingga pergantian kurikulum.

"Menurut saya terkait kinerja para menteri ini, kita lihat saja isu yang berkembang di media sosial maupun di media massa. Kalau dilihat di sektor pendidikan ini pro kontra terkait PTM, lalu kemudian pergantian kurikulum yang katanya senyap enggak ada angin dan enggak ada apa-apa, tiba-tiba kurikulum diganti, yang berarti buku-buku paket enggak bisa pakai dan segala macam," kata Kunto kepada merdeka.com, Rabu(8/9).

Tidak hanya soal pendidikan yang dicatat kurang baik, pada sektor keuangan juga saat ini membengkak. Walaupun pertumbuhan ekonomi saat ini mulai meningkat.

"Tapi kemudian membengkaknya budget anggaran cepat Jakarta-Bandung yang kemudian melibatkan BUMN strategis dan segala macam jadi perhatian. So ekonomi, BUMN, juga menjadi problem," ungkapnya.

Tidak hanya itu, persoalan Hukum dan HAM, hingga kejaksaan juga masih ada isu-isu yang harus difokuskan. Sementara itu, dia menilai, kemungkinan para menteri-menteri yang menjadi catat tersebut bisa tergeser dalam kabinet Indonesia Maju. Hal itu juga setelah PAN masuk dalam koalisi pemerintah.

"Sangat mungkin menteri-menteri profesional yang diganti dengan PAN ini," pungkasnya.

Sementara itu, Pakar Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Wasisto Raharjo Jati menilai, jika isu reshuffle kali ini cukup menarik. Dengan titik berat pada loyalitas dari para menteri.

"Namun demikian, reshuffle kali ini agak unik karena aspek loyalitas yang jadi paramater. Hal ini tentu agak subjektif, meskipun itu semua adalah hak prerogatif," kata Wasis saat dihubungi merdeka.com, terpisah.

Menteri Non Parpol Rentan

Sehingga, Wasis memprediksi jika perombakan akan menyentuh kepada kalangan Menteri yang berasal dari kalangan profesional, ketimbang kalangan partai politik maupun purnawirawan.

"Karena menteri kalangan profesional hampir rata-rata ini tidak memiliki backup politik dan kinerja mereka lebih pada kerja teknokrat yang mana kebijakan yang diambil haruslah berdampak signifikan. Kalau tidak memenuhi target, maka rentan dicopot," jelasnya.

Walau tidak menyebutkan siapa nama menteri yang layak untuk diganti, Wasis menyebutkan, indikator menteri yang bakal masuk radar reshuffle yaitu, kebocoran data pribadi, konsolidasi tahapan Pemilu serentak di 2024, dan percepatan investasi untuk memacu rehabilitasi.

"Indikator tersebut sudah mengarah kepada menteri yang dimaksud karena sering kali reshuffle itu dilakukan tidak dasar evaluasi, namun akomodasi," tambahnya.

"Bisa jadi jumlah menteri profesional ini diperkecil untuk menampung kader PAN atau mungkin relawan masuk kabinet," tambahnya.

Motif Reshuffle

Dihubungi secara terpisah, Analis politik dan Direktur Eksekutif Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago mempertanyakan urgensi perombakan kabinet. Dia mengingatkan, reshuffle harus berbasis kinerja.

"Reshuffle ini agenda apa dulu, apakah benar benar reshuffle berbasiskan kinerja atau reshuffle sharing power. Apakah wacana reshuffle kali ini berbasiskan the right man in the right place, atau hanya berbasiskan akomodir kepentingan politik untuk agenda lain,” kritik dia.

Oleh sebab itu, Pangi menyarankan kepada pemerintah untuk kedepannya memastikan proses reshuffle bisa tetap berjalan baik. “Jangan sampai reshuffle berkali kali justru citra pemerintah tetap buruk. Mestinya reshuffle harus punya korelasi linear terhadap approval rating (kepuasan) terhadap pemerintah," jelasnya.

"Sebenarnya soal nama menteri yang diganti harus berbasiskan riset bukan asumsi, harus ada alat ukuran yang jelas, bukan semata-mata berdasarkan like or dislike," jelasnya

Sebelumnya, Ketua Umum relawan Jokowi Mania (Joman) Immanuel Ebenezer meyakini Presiden Jokowi bakal segera melakukan perombakan kabinet atau reshuffle. Dia pun menyinggung menteri Jokowi sebagai ‘brutus’. Tidak loyal kepada presiden.

"Kalau kabinet yang tidak loyal kita sudah tahu dari awal, kan mereka pada ‘brutus'. Mereka memang oriented-nya pertama nyari duit, ngegarong di pemerintahan Jokowi, Jokowi sudah tahu itu," katanya kepada merdeka.com pekan lalu.

Menurut dia, Jokowi akan melakukan reshuffle pada Oktober atau September mendatang. Salah satunya untuk mengakomodir dukungan PAN di dalam kabinet.

"Kalau enggak September ini atau Oktober ini kan ada reshuffle besar-besaran," katanya.

Ada dua menteri yang disebutkan Noel yang pasti terkena reshuffle. Sebab, menurutnya dua menteri ini kerap sekali melakukan tindakan yang salah dan merugikan pemerintahan Jokowi. Satu di antaranya Mensesneg Pratikno dan Menteri Perdagangan M Luthfi.

"Salah satu yang di reshuffle yang ketara bangetlah itu pasti Pratikno itu, mulai enggak dilibatkan dalam proses politik sekarang ini. Karena sudah berkali-kali blunder. Pratikno yang pertama kali direshuffle, entah kedua Lutfhi (Menteri Perdagangan), lah ketiga siapa yang jelas ini yang besar-besaran nih reshuffle-nya,” jelasnya.

Tidak cuma Pratikno dan M Luthfi, pria karib disapa Noel ini juga menilai, Jokowi akan mereshuffle Menteri Kesehatan Budi Gunadi dan Menteri ATR Sofyan Djalil.

(mdk/rnd)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP