Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Ruhut Sitompul yang tak lagi loyal pada SBY

Ruhut Sitompul yang tak lagi loyal pada SBY Ruhut Sitompul. ©2016 Merdeka.com/Raynaldo Ghifarri Lubabah

Merdeka.com - Politikus Demokrat Ruhut Sitompul kembali menjadi sorotan. Ruhut yang biasa membela habis-habisan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), kini mulai membandel.

Hal ini berawal dari perbedaan sikap politik Ruhut yang memilih mendukung petahana Basuki T Purnama (Ahok) di Pilgub DKI 2017. Jelas, Demokrat sejak jauh hari tak suka dengan gaya kepemimpinan Ahok.

Demokrat mengusung Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni untuk melawan Ahok dan Djarot. Agus merupakan putra pertama Ketum Demokrat SBY. Agus sebelumnya aktif di TNI, pangkatnya Mayor.

Ruhut keras kritik SBY dan para petinggi Demokrat. Dia menyayangkan bahwa karir cemerlang Agus harus terhenti di TNI. Menurut dia, ini akibat para pembisik SBY dan ambisi Demokrat ambil alih kekuasan di DKI.

"Agus itu anggota TNI cerdas, jenius, tapi sayang gara-gara ambisi partai dia maju di politik," ujar Ruhut kepada merdeka.com, Jumat (23/9).

"Tapi aku enggak kebayang kalau Agus kalah dibunuh karirnya oleh partai yang aku banggakan," sambung anggota Komisi III ini.

Ruhut dikenal galak dengan para lawan politiknya yang berseberangan pandangan. Bahkan dulu, saat SBY masih berkuasa, Ruhut tak keberatan disebut sebagai 'anjing helder' SBY.

Segala bentuk kritik yang menyasar SBY selalu dibantahnya. Tak jarang, Ruhut kerap berseteru dengan lawan politik SBY di DPR.

Misalnya saja kasus Bank Century. Ruhut kerap ribut dengan orang-orang yang menyudutkan pemerintah SBY, seperti Mukhamad Misbakhun, Bambang Soesatyo dan Fahri Hamzah.

Kala SBY pimpin pemerintahan, Ruhut juga kerap mengklaim dirinya paling dipercaya oleh presiden keenam itu. Ruhut kerap mengklaim dirinya anak kesayangan SBY dan istrinya, Ani Yudhoyono.

Saat Demokrat diterpa badai korupsi, Ruhut paling galak menyerang Anas Urbaningrum. Dia menyerang para loyalis Anas Urbaningrum demi membela mati-matian SBY.

Kini, Ruhut lebih senang mengeluh-eluhkan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Sejak Pilpres 2014 lalu, saat Demokrat memutuskan sebagai partai penyeimbang, Ruhut telah deklarasi dukung Jokowi.

Partai Demokrat pun tampaknya mulai gerah dengan manuver Ruhut. Ruhut akhirnya dicopot dari koordinator juru bicara Partai Demokrat.

Saat ini, Ruhut harus bersiap menghadapi sanksi dari Demokrat. Ruhut tak mau mendukung Agus-Sylvi dan tetap memilih mendukung petahana Ahok-Djarot.

Ketua DPP Demokrat Didik Murkianto mengingatkan, Ruhut untuk mengubah sikapnya dan mendukung pemenangan Agus-Slyviana. Sebab, sikap politik yang berseberangan itu bisa menjadi contoh buruk bagi kader Demokrat.

"Hingga saat ini beliau masih tercatat sebagai pengurus DPP dan kader Demokrat. Apalagi Pak Ruhut diberi amanah rakyat sebagai wakil rakyat tentu konstituen beliau membaca," kata Didik di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (26/9).

"Rakyat Jakarta pahami perilaku politik akan merepresentasikan sikap dan kebijakan partai. Kalau ada kader yang tidak sesuai dengan garis partai jadi contoh buruk," sambung Didik.

Didik mengaku belum mengetahui apakah keduanya akan diberikan sanksi oleh partai. Partai akan memanggil Ruhut untuk dimintai keterangan terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan.

"Prosesnya masih panjang. Kita tetap proper kita akan periksa panggil minta keterangan. Dari keterangan akan diolah komite pengawasan seberapa jauh substansi pelanggaran yang dilakukan," tegasnya.

(mdk/rnd)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP