Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Rajut Kembali Persatuan Usai Pemilu 2019

Rajut Kembali Persatuan Usai Pemilu 2019 Pasangan Capres Berpelukan Saat Debat Pertama. ©2019 Liputan6.com/Faizal Fanani

Merdeka.com - Pemilu telah selesai. Kini saatnya melakukan rekonsiliasi kebangsaan dengan menghapus segala perbedaan. Jangan ada perselisihan di dunia nyata maupun di media sosial (medsos).

"Kita harus kembali merajut persatuan dengan melakukan rekonsiliasi kebangsaan. Akhirilah politik identitas, akhirilah pilihan diksi yang membuat posisi orang lain tidak nyaman. Sudahlah kita tinggalkan segala bentuk hoaks, hate speech, dan lain-lain," ujar Direktur Eksekutif Emrus Corner, Emrus Sihombing dalam keterangannya, Selasa (2/7).

Emrus menilai, selama kampanye Pemilu kemarin, ada semacam komunikasi politik yang kadang memunculkan pilihan diksi yang tidak edukatif di tengah masyarakat. Bahkan ada lontaran-lontaran yang membuat pihak tertentu tidak nyaman dengan pesan tersebut.

"Saya garis bawahi kata beradab. Komunikasi politik juga harus beradab jadi semua aktivitas kehidupan kita harus beradab, ekonomi beradab, politik beradab, komunikasi politik juga beradab, lontaran pesan yang disampaikan juga harus pilihan diksi yang beradab, karena itu landasan Pancasila," tuturnya.

Untuk itulah, pakar komunikasi politik Universitas Pelita Harapan itu mengajak seluruh bangsa untuk kembali ke alam realitas dengan kembali berkontribusi membangun bangsa dan negara sebagaimana dituangkan dalam Pembukaan UUD ’45 yaitu memajukan kesejahteraan umum, kesejahteraan masyarakat.

Selain itu, masyarakat juga tidak lagi memperbincangkan perbedaan atas dasar agama, suku, atau apapun yang sifatnya mempertajam perpecahan. Tetapi memperbincangkan tentang program atau segala perbaikan pembangunan juga mengkritisi hal-hal yang dinilai dari melenceng dari komitmen kebangsaan.

"Sekarang kita bersyukur sudah ada presiden terpilih, 2019-2024. Biarlah presiden terpilih menyusun kabinet dan programnya untuk mewujudkan janji-janjinya di masa kampanye. Dan mari kita dukung dengan memberikan masukan dan kritik dan sifatnya konstruktif," imbuhnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk bijak dalam menyikapi keriuhan media sosial (medsos). Ia melihat medsos seakan kebablasan. Pasalnya banyak pesan di medsos yang isinya hoaks, hate speech, dan pesan yang tidak memiliki rasa tanggung jawab.

"Yang dibutuhkan sekarang adalah kecerdasan masyarakat terhadap sosmed, sehingga tidak mudah tergiring dan percaya begitu saja," tukasnya.

Untuk menyikapi keliaran medsos ini, Emrus menyarankan agar masyarakat tidak menanggapi bila ada pesan atau konten medsos yang tidak beradab. Kedua perlu dipikirkan bersama ke depan dibuat aturan di mana setiap pemilik medsos harus dimulai dengan mendaftarkan e-KTP sehingga segala bentuk pesan dan konten yang dibuat bisa teridentifikasi.

Menurutnya, langkah itu bukan bagian dari membatasi kebebasan berpendapat, tetapi untuk mempermudah mengidentifikasi pembuat konten. Pasalnya, ruang publik itu bukan hanya milik pegiat medsos, tetapi milik bersama.

"Semua harus bertanggungjawab sehingga masyarakat harus didik segala perilakunya, termasuk perilaku komunikasi. Jadi tidak boleh sekehendak melontarkan pesan di medsos karena kita bersinggungan dengan manusia lain dan semua orang bisa mengakses. Kalau ingin bebas sendiri, teriak saja di ruang pribadi," tandasnya.

(mdk/did)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP