Priyo Budi Santoso cari peluang lawan Airlangga di Munaslub Golkar
Merdeka.com - Sekretaris Dewan Pakar Golkar, Priyo Budi Santoso tak mau munaslub hanya untuk mengukuhkan Airlangga Hartarto sebagai ketua umum. Saat ini, dirinya tengah mencari momentum yang tepat untuk maju bersaing dengan Airlangga berebut kursi ketum di munaslub.
"Sekarang saya sedang cari momentum, apa benar dibuka kemungkinan, dibuka pintu bagi calon lain," ujar Priyo, Selasa (19/12).
Dia mengklaim, mendapat dukungan 30 persen atau 148 suara dari peserta munaslub. Menurutnya, para pendukungnya ini tinggal menunggu kode dari dia apakah ia bisa maju atau tidak.
"Mereka sudah siap. Sekali lagi saya sedang melihat situasi terakhir bagaimana," ujarnya.
Dia juga mendorong Ketum dipilih melalui mekanisme pemilihan terbuka. "Mestinya ya. Tapi ya saya ingin lihat suasana dulu bagaimana. Enggak mungkin juga saya membentur batu baja, kalau memang kenyatannya seperti apa nanti," kata dia.
Memang diakui, Airlangga cukup kuat sebagai kandidat tunggal. Hanya saja, kata Priyo, ia ingin membangun tradisi yang berkembang di Golkar dimana pemilihan Ketum dilakukan secara demokratis. Kalah atau menang baginya tak masalah.
Dia mengatakan, banyak kader partai yang juga punya niat mulia membangun Golkar dan harus diberi kesempatan. Jika cara demokratis tak diterapkan, akan mengancam eksistensi Golkar ke depan.
"Apa enggak boleh orang yang punya nurani, tujuan mulia, niat menegakkan citra, membangun demokrasi yang sehat diberi kesempatan? Apa harus dibungkam hanya karena mungkin angin istana atau seterusnya, saya tidak tahu," ujarnya.
Terkait keinginannya ini, ia mengaku kerap mengkomunikasikan dengan para senior Golkar. Ia mengatakan, ada 540 suara yang kebanyakan dari DPD II se-Indonesia, DPD I dan organisasi pusat.
"Organ pusat sudahlah saya tinggallah, saya tahu beliau-beliau punya pandangan sendiri yang sudah ada di pers," jelasnya.
Dia pun konsentrasi mencari dukungan ke DPD II se-Indonesia. "Kalau tingkat I ya saya mohon izin saya sudah membentur tembok dan enggak sempat meyakinkan, apalagi organ pusat, seperti Kosgoro, Soksi dan sebagainya, saya hormat saja," ujarnya.
"Tapi kan masih ada 500 sekian DPD II dan suara mereka mayoritas. Mereka tidak pernah diwawancarai dan terberitakan, silent majority. Tapi lagi-lagi saya akan menunggu," kata dia.
Mengenai keinginan Priyo ini, politisi Golkar, Yorrys Raweyai mengatakan, tak masalah karena itu hak yang bersangkutan sebagai kader. Priyo juga dinilai memiliki kompetensi untuk maju. Hanya saja ada mekanisme atau aturan yang harus diikuti jika akan maju mencalonkan diri.
"Jadi bukan saya mau maju, saya bicara di media. Ada mekanisme internal yang atur itu," ujar Yorrys.
(mdk/rnd)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya