Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Pramono Edhie merasa dekat dengan semua kekuatan politik

Pramono Edhie merasa dekat dengan semua kekuatan politik Pramono Edhie Wibowo luncurkan media center. ©2013 Merdeka.com/M. Luthfi Rahman

Merdeka.com - Peserta Konvensi Capres Partai Demokrat Pramono Edhie Wibowo punya nilai lebih dalam kontestasi Pemilu 2014. Sebab mantan Kasad ini punya kedekatan dengan tiga kubu yang saat ini sedang bersaing merebut kekuasaan, yakni Partai Demokrat yang dipimpin SBY , Prabowo Subianto ( Gerindra ) dan Megawati Soekarnoputri (Megawati).

Pramono Edhie pernah menjadi pengawal Megawati saat menjabat sebagai presiden tahun 2002. Saat itu, Pramono Edhie menjadi ajudan Mega dengan pangkat kolonel.

"Orang menganggap ada kelebihan yang saya miliki karena saya jadi ajudan Bu Mega 4 tahun," cerita Pramono Edhi di Semarang, Jawa Tengah, Jumat (28/3).

Saat bergabung dengan Korps Pasukan Khusus (Kopassus), Pramono Edhie menjadi anak buah Prabowo Subianto . Kala itu, Capres Partai Gerindra ini menjabat sebagai Danjen Kopassus.

Sementara kedekatan dengan SBY , sudah tak bisa dipertanyakan lagi, karena kakak dari Pramono Edhie adalah istri dari SBY , yakni Ani Yudhoyono.

"Mungkin dilihat saya punya hubungan dekat dengan Pak SBY , pernah jadi bawahan Pak Prabowo itu nilai positif yang saya miliki," tutur dia.

Kendati demikian, Pramono tak mau berspekulasi soal kemungkinan dirinya akan membangun kerja sama politik dengan Mega atau Prabowo. Dia tak mau dianggap sebagai kutu loncat.

"Jika diperhitungkan lawan politik sah-sah saja, tapi kalau saya tidak menang (konvensi) bukan berarti saya harus loncat-loncat (jadi cawapres di luar Demokrat)," pungkasnya.

Sebelumnya, Pakar Psikologi Politik UI Hamdi Muluk meyakini jika dalam perhelatan Pemilu 2014 hanya ada tiga kubu yang mendominasi, yakni, SBY , Megawati dan Prabowo. Di luar kubu tersebut, dia yakin akan membentuk kerja sama di Pemilu 2014 ini.

Dia melihat ke tiga kelompok ini sulit untuk bergabung membangun koalisi. Sebab, ketiganya punya latar belakang psikologis yang berbeda.

"Prabowo sudah mulai menyerang, sebenarnya tidak nyebut nama, tapi dapat disimpulkan Prabowo nyerang Jokowi. Kecil kemungkinan mereka bekerja sama," ujar Hamdi dalam diskusi di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (24/3).

Selain itu, lanjut dia, kubu Mega bersama Jokowi juga diprediksi sulit untuk membangun koalisi dengan SBY . Terlebih, Mega punya masalah dengan SBY sejak 2003 lalu.

"Kita tidak tahu itu urusan mereka (Mega - SBY), yang jelas kita bacanya negatif. Dulu pernah dihubung-hubungkan oleh Pak Taufiq Kiemas tapi tetap saja negatif," tegas dia.

Sementara untuk kubu SBY dan Prabowo, dia melihat bisa negatif atau positif. "SBY dengan Prabowo sebenarnya bisa positif bisa negatif. Kalau dulu sempat kita lihat mereka bertemu," tutur dia.

Sementara kubu yang paling fleksibel, lanjut dia, adalah Partai Golkar dengan Aburizal Bakrie (Ical). Sebab, dia yakin bisa saja Ical melunak dan mau jadi jadi cawapres Prabowo atau Jokowi.

"Kalau Jokowi dan Prabowo tidak mungkin akan punya relasi positif, pasti akan bersaing, tinggal kubu ARB mau ke mana?" terang dia.

(mdk/ren)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP