Pilgub Jawa Barat, Demokrat atau Gerindra yang ditinggal
Merdeka.com - Mulyadi, Ketua DPD Gerindra Jawa Barat bikin peta politik Pilgub Jawa Barat bias. Dia menolak keras Gerindra dukung Deddy Mizwar-Ahmad Syaikhu. Padahal, Gerindra dan PKS di tingkat pusat sedang menikmati euforia kemenangan di Pilgub DKI. Deddy dan Syaikhu sejak awal diusulkan oleh PKS.
Mulyadi melihat tak ada keseriusan dari Deddy Mizwar. Bahkan janji jadi kader Gerindra tak kunjung ditepati wakil gubernur Jawa Barat itu.
Keraguan Mulyadi terbukti. 22 November lalu Deddy Mizwar dideklarasikan maju bersama Syaikhu oleh Partai Demokrat. Bahkan Deddy memenuhi syarat untuk menjadi kader partai pimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini. Demokrat bersama dengan PKS setuju pasangan Deddy-Syaikhu. Tapi PAN yang paling dulu deklarasi Deddy, belum bulat dukung Syaikhu.
Di sisi lain, Golkar, PKB, PPP dan NasDem telah lebih dulu menjatuhkan pilihan pada Wali Kota Bandung Ridwan Kamil. Koalisi ini tengah menggodok sejumlah nama untuk mendampingi Ridwan. Hingga 29 November, nama pendamping itu belum putus.
Tersisa PDIP dan Gerindra yang belum menentukan calon. PDIP sebagai partai pemilik 20 kursi DPRD Jabar tak butuh partai lain untuk usung calon. Partai pimpinan Megawati Soekarnoputri ini masih menimbang sejumlah nama. Hingga kini, PDIP belum memutuskan.
Sementara Gerindra, memunculkan nama baru yakni Burhanudin Abdullah, Mayjen Sudrajat, Ketua KADIN Jabar Agung Suryamal, Ketua Apdesi Rezki Enjoy dan Mulyadi sendiri. Rencananya, ketum Gerindra, Prabowo Subianto bakal mengundang seluruh calon ke Hambalang untuk menyampaikan visi dan misinya sebelum menjatuhkan pilihan.
Kalaupun memiliki calon, Gerindra wajib memilih teman koalisi. Sebab hanya memiliki 11 kursi di DPRD Jabar, sementara syarat mengusung calon minimal 20 kursi. Gerindra pun coba menggoyang koalisi Deddy Mizwar - Ahmad Syaikhu yang disebut 'koalisi zaman now'.
"Memang harus koalisi. Yang (koalisi) zaman now kami hormati. Tapi selama belum mendaftar, semua kemungkinan bisa terjadi. PAN pun menyatakan koalisi (zaman now) belum final. Mungkin komposisinya PKS, Gerindra dan PAN," jelas Mulyadi saat dihubungi kemarin.
Mulyadi pun ingin membalikkan keadaan. Dia ingin meninggalkan Demokrat yang telah 'membajak' Deddy Mizwar dengan menjadikan pemeran Abu Nawas itu jadi kader partai berlambang bintang Mercy itu.
"Kalau Demokrat belum mengusulkan kandidat, mungkin kita bisa sama-sama. Tapi Pak Demiz jadi kader Demokrat, sementara Gerindra ingin kader yang maju. Jadi ya susah. Karena Gerindra mengincar posisi Jabar 1," kata Mulyadi.
Goyangan Gerindra kepada koalisi zaman now itu juga bukan hal yang mustahil. PKS nyatanya sampai saat ini belum bisa memastikan benar dukung Deddy-Syaikhu atau tidak. Pendaftaran calon masih Januari. Apalagi muncul nama lain di internal PKS yakni istri Gubernur Jabar Ahmad Heryawan, Netty Prasetiyani.
Saat dihubungi beberapa waktu lalu, Wasekjen PKS Mardani Ali Sera mengakui memang masih bisa partainya berubah sikap. Hal itu tergantung Presiden PKS Sohibul Iman dan Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al Jufrie. Namun, Mardani menegaskan, PKS siap memenangkan pertarungan siapapun yang pada akhirnya diputuskan oleh para pimpinan partainya.
Di lain hal, Gerindra juga membuka opsi untuk berkoalisi dengan PDIP. Tapi tampaknya opsi ini sulit terwujud jika dilihat dari konstelasi politik nasional. PDIP berada di pemerintah, Gerindra sebagai partai oposisi.
"Soal dengan PDIP selama visi-misi program dan sosok calonnya cocok untuk rakyat Jabar yang modern egaliter, religius bukan hal yang mustahil," kata Ketua DPP Gerindra, Sodik Mudjahid saat dihubungi merdeka.com, Selasa (28/11).
Meski terbuka bergabung dengan PDIP, kata Sodik, Gerindra masih mengupayakan mengajak PKS, Demokrat dan PAN untuk membentuk poros. Tapi, Gerindra kemungkinan akan menawarkan calon alternatif di luar nama Demiz sapaan Deddy Mizwar.
"Masih diusahakan dengan PKS, Partai Demokrat dan PAN," ujarnya.
(mdk/rnd)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya