Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Pengamat: Pasca Pilgub Jatim, suara muslimat bakal berlabuh ke Demokrat

Pengamat: Pasca Pilgub Jatim, suara muslimat bakal berlabuh ke Demokrat Muslimat NU. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com - Pilkada 2018 merupakan batu loncatan bagi parpol-parpol untuk meraih kesuksesan pada Pemilu 2019 (Pileg dan Pilpres), karena waktu pelaksanaannya sangat berdekatan. Terkait Pilgub Jatim, pasca coblosan 27 Juni 2018, parpol mana saja yang akan diuntungkan untuk elektoral 2019?Pengamat politik dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Surokim Abdus Salam punya pendapat menarik.

Surokim mengatakan jika Calon Gubernur Khofifah Indar Parawansa dan Calon Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak berhasil menang, maka Partai Demokrat yang bakal meraup keuntungan besar.

Partai berlambang Mercy besutan SBY itu, bakal mendapatkan ‘coattail effect’ dari paslon nomor 1 Pilkada Jatim tersebut. Yaitu, parpol yang mendukung akan mendapat limpahan suara dari popularitas figur yang dicalonkan.

"Demokrat akan mendapat banyak untung dari parpol pengusung lain, seperti Golkar, PAN, PPP dan Hanura," kata Surokim ketika dihubungi media, Senin (11/6/2018).

Bagaimana menjelaskan? Dari berbagai survei, kata dia, tend suara Muslimat NU memang menjadi strong voters bagi Khofifah-Emil. "Dan, Partai Demokrat lebih menonjol, terkena stigma, sebagai parpol pendukung Khofifah-Emil," kata Surokim.

Sementara, kata dia, Partai Golkar memang tergolong partai modern dan memiliki struktur partai hingga tingkat ranting. Partai Golkar juga paling terlihat kerja mesin organisasinya dalam proses memenangkan Khofifah-Emil.

Tetapi, kata Surokim, Golkar diprediksi cukup sulit meraih suara signifikan dari kalangan Muslimat NU untuk Pemilu 2019. "Kendalanya karena faktor identifikasi partai, sehingga suara Muslimat NU enggan merapat ke Partai Golkar," kata Surokim.

Sedang PPP juga akan dapat limpahan suara Muslimat NU, tetapi tidak akan signifikan dan sebanyak Partai Demokrat. Kecuali, kata dia, jika Bu Khofifah masuk PPP lagi.

"Tapi bisa jadi prediksinya berbeda. Bagaimanapun suara Muslimat NU, sejauh yang saya catat, loyal pada Khofifah bukan karena partai," tegas Dekan FISIP UTM ini.

PPP, kata dia, harus berjuang keras jika ingin meraih suara Muslimat NU di Pemilu 2019. Karena memori pemilih terbatas parpol pengusung utama. Partai inilah yang akan mendapat limpahan suara signifikan sebagai coattail effect.

"Sejauh pengamatan saya dukungan maksimal kinerja partai pada Khofifah-Emil ya dari Partai Demokrat, disusul Golkar, PAN, PPP, NasDem dan Hanura," dalih Surokim Abdus Salam.

Sebaliknya, kata dia, jika Khofifah-Emil gagal memang di Pilkada Jawa Timur, maka dampak terburuk akan menimpa parpol pengusung utama, yaitu Partai Demokrat.

"Itu juga yang mempengaruhi kenapa mesin Hanura, NasDem dan PPP kurang all out bergerak memenangkan Khofifah-Emil, karena pilihan electoral parpol-parpol itu di 2019 berbeda dengan Partai Demokrat," tegas Surokim.

"Yang jelas, jika Gus Ipul-Mbak Puti yang menang otomatis PDIP dan PKB yang akan dapat limpahan suara di Pemilu 2019. Sebab, kedua parpol itu menjadi parpol pengusung utama kandidat nomor urut 2 itu," pungkas Surokim.

(mdk/hhw)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP