PDIP sejak awal sudah cium 'drama' Demokrat dalam RUU Pilkada
Merdeka.com - Politikus PDI Perjuangan, Eva Kusuma Sundari mengaku partainya sudah memperkirakan aksi meninggalkan ruang sidang (walk out) yang dilakukan Partai Demokrat dalam pengesahan RUU Pilkada dini hari tadi. Menurut Eva, partainya sudah mendengar selentingan kabar bahwa partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut akan abstain.
"Ternyata hanya main drama Pak Benny K Harman dan Demokrat. Kami sendiri sejak awal sudah mendengar selentingan mereka akan abstain," kata Eva usai pengambilan keputusan RUU Pilkada di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (26/9) dini hari.
Meski sebelumnya sudah mendapat informasi Partai Demokrat akan abstain, Eva mengatakan, PDIP tetap berpikiran positif dan memberi kesempatan Demokrat membuktikan sikapnya mempertahankan opsi pilkada langsung.
Namun, kesempatan tersebut dimentahkan begitu saja oleh partai berlambang bintang mercy tersebut. "Lucunya, masih ada enam (anggota Fraksi Partai Demokrat) yang tinggal walaupun dijanjikan (oleh Demokrat) katanya (seluruh anggota fraksi) akan pro kepada pilsung (pilkada langsung) ternyata tidak terbukti," imbuh Eva.
Eva juga mempertanyakan keseriusan Ketua Umum DPP Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono mengusung demokrasi yang melibatkan rakyat, terlebih lagi SBY sudah mengunggah videonya di YouTube tentang pentingnya demokrasi yang melibatkan masyarakat.
Sementara itu, Politisi PKB, Abdul Kadir Karding menilai keputusan pilkada melalui DPRD merupakan kemunduran reformasi dan kemunduran terhadap penghargaan suara rakyat.
"Kemunduran reformasi kita dan penghargaan kepada suara rakyat," kata Abdul.
Diakui Abdul, PKB terkejut dengan aksi walkout yang dilakukan Partai Demokrat. "(Walkout) Yang terjadi, kami kaget sikap yang diambil dari temen Demokrat. PDIP mendukung gagasan yang baik, mereka justru melakukan walkout," ucap Abdul.
Mendukung pilkada langsung, diakui merupakan sikap PKB sejak awal. Dirinya mengaku, pilkada langsung masih banyak kekurangan, namun bukan berarti proses menuju kesempurnaannya dihentikan.
"Itu politik PKB sejak awal adalah mendukung pilkada langsung dan reformasi. Sebenarnya dalam proses tradisi demokrasi kita pilihan langsung demokrasi tidak bisa datang seketika, bertahap dan berproses," tuturnya.
(mdk/ren)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya