Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

'Papa titip absen' dan private jet, senjata perang Akom vs Setnov

'Papa titip absen' dan private jet, senjata perang Akom vs Setnov Setya Novanto penuhi panggilan Kejagung. ©2016 merdeka.com/muhammad luthfi rahman

Merdeka.com - Munas Golkar menjadi arena pertarungan terbuka antara Ade Komarudin (Akom) dan Setya Novanto (Setnov). Selama ini, keduanya memang kerap berseteru di internal Golkar, namun tak pernah terang-terangan mengemuka ke publik.

Sejak Aburizal Bakrie (Ical) memutuskan untuk legowo menggelar munas, tak lagi maju sebagai ketua umum Golkar, dua loyalis Ical ini kemudian bertarung perebutkan kursi orang nomor satu di partai penguasa orde baru itu. Setnov dan Akom memang bisa dibilang anak kesayangan Ical, selalu mendapat jabatan di masa kepemimpinan Ical.

Dalam kontestasi jelang munas, Akom diisukan terima gratifikasi pelayanan private jet saat keliling konsolidasi ke pengurus Golkar daerah. Akom diketahui naik jet pribadi bersama timsesnya, Bambang Soesatyo, Ahmadi Noor Supit, MS Hidayat, Titiek Soeharto.

Foto mereka pun tersebar di media sosial. Sebuah LSM kemudian menuding Akom yang juga ketua DPR itu menerima gratifikasi. Mantan sekretaris Fraksi Golkar ini pun kemudian dilaporkan ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD).

Bambang Soesatyo geram jagoannya dituding menerima gratifikasi pelayanan pesawat pribadi. Dia pun mengungkap asal usul pesawat tersebut.

"Saya menilai permainan makin kasar dalam persaingan caketum Golkar jelang Munas awal April mendatang. Kita sudah tahu pelakunya. Pesawat milik sendiri kok dibilang gratifikasi. Kita imbau bersainglah secara sehat," terang Bamsoet.

Bamsoet membantah sekali lagi, jet pribadi yang digunakan Akom bentuk gratifikasi. Menurut dia, pesawat itu milik perusahaannya yang bergerak di bidang tambang batu bara.

"Saya adalah salah satu pemegang saham di group perusahaan (PT Kodeco-Jhonlin) penerbangan itu sejak 2005 sebelum menjadi anggota DPR sampai sekarang. Dan itu sudah menjadi pengetahuan umum di kalangan pengusaha Kadin Indonesia dimana saya menjabat sebagai wakil ketua umum bersama Rosan sebagai ketua umumnya. Perusahaan kami bergerak di bidang tambang batu bara di Kalsel, angkutan laut, angkutan udara dan alat berat. Jadi apanya yang salah dan apanya yang gratifikasi?" jelas Bamsoet.

Tak berselang kasus gratifikasi ini mencuat, giliran Setnov dilanda isu etik parlemen. (mdk/rnd)

Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP