NasDem tak khawatir kaum milenial lari ke PSI
Merdeka.com - Pertemuan Presiden Jokowi dengan elite PSI di Istana beberapa waktu lalu menimbulkan polemik. Koordinator Forum Masyarakat Peduli Parlemen Independen (Formappi), Sebastian Salang menilai kunjungan parpol, ormas dan organisasi kemahasiswaan ke Istana adalah hal yang biasa. Karenanya dia heran dengan munculnya reaksi berlebihan atas pertemuan PSI dan Jokowi.
Salang menilai derasnya badai kritik pada pertemuan PSI dan Jokowi justru akan berdampak ke PSI yang menjadi peserta pemilu pertama kalinya. Karena digagas anak-anak muda, Salang memprediksi PSI dengan gaya 'zaman now' bisa meraup dukungan kalangan milenial.
Menanggapi hal itu, anggota Dewan Pakar Partai NasDem Taufiqulhadi mengaku partainya tak khawatir PSI bakal meraih suara kalangan milenial.
"Dari perspektif NasDem, kami selalu ada kekhawatiran. Bukan terhadap partai-partai lain. Tapi terhadap kami sendiri. Karena kalau kami tidak dalam alur yang sama dengan hati rakyat, kami akan ditinggal rakyat," katanya kepada merdeka.com, Rabu (7/3).
Karena itu, dia mengaku NasDem sangat sensitif terhadap isu kerakyatan. Salah satu contohnya NasDem menolak UU MD3 karena semua partai lain berusaha menjauh dengan rakyat.
"Ada pasal-pasal dalam UU MD3 yang berpotensi mengkriminalisasi rakyat. Karena itu kami menolaknya. Sementara partai-partai lain semua menerimanya," katanya.
"Di situlah substansi keberpihakan. Jadi kalau ingin kritisi sebaiknya terhadap isu-isu seperti itu. Bukan pertemuan presiden dengan sebuah partai seperti PSI," lanjutnya.
Anggota Komisi III DPR ini juga menilai kritik dari sejumlah pihak terhadap pertemuan Presiden Jokowi dan elite PSI di Istana, berlebihan. Menurutnya, pertemuan itu tak perlu dikritik.
"Kami memang berpikir seperti itu bahwa kritik itu berlebihan. Untuk apa mengritik sebuah pertemuan antara Presiden dengan rakyat biasa?" katanya.
(mdk/dan)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya