Mengunci capres lain lewat ambang batas presiden
Merdeka.com - Wacana ambang batas pencalonan presiden 2014 mulai santer diperbincangkan. Baik itu partai besar, menengah ataupun partai kecil.
Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum misalnya yang menghendaki untuk ambang batas pencapresan diusulkan 15 persen kursi di Senayan, sedangkan Golkar tetap 20 persen..
Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Syamsudin Haris mendukung 3,5 persen untuk nilai ambang batas calon presiden.
"Saya berpendapat itu (3,5 persen) saja yang dipakai supaya tidak bikin lagi kebanyakan ambang batas. Sehingga peluang munculnya tokoh-tokoh alternatif selain nama 4 L (lu lagi lu lagi) menjadi semakin besar kalau ambang batasnya tidak begitu besar," kata Syamsudin Haris kepada wartawan di DPR, Jakarta, Rabu, (16/5).
"Artinya dengan itu demokratis bisa tercapai. Poin saya adalah jangan sampai kita pada tingkat yang sangat awal membatasi peluang munculnya calon-calon pemimpin bangsa yang terbaik yang belum tentu ada di dalam setiap parpol," tambahnya.
Syamsudin melanjutkan, memang saat ini hasil survei banyak tokoh partai tapi itu merupakan hasil hari ini, besok belum tentu. Dengan adanya ambang batas, artinya sistem pemilu seolah-olah mengunci peluang calon lain.
"Ya mengunci calon itu supaya yang maju dalam calon itu adalah yang diusung partai besar atau koalisi partai besar," jelas Syamsudin.
"Iya kalau dalam konteks ambang batas ya dikecilkan, yang 20 sampai 25 persen itu tidak masuk akal. kalau dalam konteks internal parpol seleksi calonnya mesti lebih terbuka. bisa konvensi itu kan soal nama, bisa pemilihan pendahuluan, bisa survei, sepanjang survey itu memang kredibel ya bisa macam-macam," pungkasnya. (mdk/hhw)
Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya